Di awal tahun 2026, tepat di kawasan bisnis jantung kota Jakarta yang kini tampak menjulang menopang langit dengan arsitektur futuristik dan infrastruktur digital canggih, sebuah konferensi internasional tentang kedokteran genomik diselenggarakan di Balai Inovasi Teknologi. Di tengah kerumunan para ilmuwan, dokter, dan penggiat teknologi kesehatan, berdiri seorang ahli biologi molekuler muda yang cerdas dan karismatik; Risa Shofia dari Widya Genomik.
Widya Genomik, sebuah perusahaan pionir di bidang bioteknologi Indonesia, telah dikenal luas karena layanannya yang inovatif dalam analisis data genomik guna mengoptimalkan kualitas hidup manusia. Layanan mereka tidak hanya memprediksi risiko penyakit, tetapi juga mengembangkan ranah sport genomics, nutrigenomics, dan lifestyle genomics, yang memberikan rekomendasi personal dalam konteks olahraga, nutrisi, dan aktivitas sosial.
Pada sesi pembuka, Risa mulai berbicara dengan penuh semangat, kedua matanya membulat dan pipinya merona kemerahan seiring dengan mengalir derasnya epinefrin yang menandai terpantiknya letupan-letupan hasrat akademik di benaknya;
“Hari ini, saya ingin mengajak Anda memahami bagaimana pemeriksaan genom dapat membuka pintu menuju perawatan kesehatan yang lebih personal dan proaktif. Melalui analisis data genomik, kita dapat memprediksi risiko penyakit sejak dini, menyesuaikan program olahraga berdasarkan kecenderungan genetik, merancang pola makan yang optimal, dan mengatur gaya hidup yang mendukung kesehatan jangka panjang.”
Risa menjelaskan bahwa seluruh proses dimulai dengan pengumpulan dan integrasi data. Data genomik diperoleh dari teknik sequencing canggih seperti Whole Genome Sequencing (WGS) atau Whole Exome Sequencing (WES), juga teknologi garda depan seperti microarray. Prosesnya dimulai di laboratorium, di mana data mentah dalam format FASTQ diunggah ke sistem melalui antarmuka yang aman.
Secara teknis Risa menjelaskan adanya tahapan preprocessing dan variant calling. Dimana data mentah menjalani proses pembersihan untuk memastikan kualitasnya, kemudian dipetakan ke reference genome dengan menggunakan algoritma seperti BWA. Sementara variant calling dilakukan dengan bantuan alat seperti GATK, sistem mendeteksi varian; mulai dari Single Nucleotide Polymorphisms (SNP) hingga indels dan Copy Number Variations (CNV).
Tak lupa Risa pun menjelaskan tentang proses variant annotation dengan menggunakan tools seperti ANNOVAR atau Variant Effect Predictor (VEP) digunakan untuk memberikan informasi fungsional pada tiap varian, menandai apakah suatu varian berhubungan dengan penyakit tertentu.
Dalam sesi edukasi yang semakin menghangat, Risa melanjutkan, “Data genomik saja tidak cukup. Kami juga mengintegrasikan data klinis, demografis, dan hasil pemeriksaan penunjang seperti citra medis dan data wearable. Ini memungkinkan kami mendapatkan gambaran holistik tentang kondisi pasien.”
Data genomik yang telah diproses diubah menjadi representasi numerik melalui teknik encoding; misalnya, one-hot encoding atau embedding khusus sekuens DNA.
Data non-genomik, seperti informasi dari wearable device yang dapat memantau data biolistrik dll seperti detak jantung, tekanan darah, kadar gula darah, asam urat dll, juga diekstraksi fiturnya dan digabungkan dengan data genomik.
Risa pun mengungkapkan rahasia di balik sistem canggih Widya Genomik: kecerdasan artifisial atau akal imitasi (AI) yang dirancang khusus untuk menganalisis data genomik dan memberikan prediksi risiko penyakit dengan tingkat akurasi tinggi. “Kami mengembangkan sebuah pipeline AI multi-modal yang terdiri dari beberapa tahap,” jelasnya sambil menampilkan slide interaktif di layar besar dan model holografik 3D di tengah ruangan konferensi.
Dalam tayangannya Risa menampilkan langkah-langkah teknis pengembangan sistem analisis genom berbasis AI yang diawali dengan tahap pemilihan arsitektur model. Di mana model Deep Learning seperti Convolutional Neural Networks (CNN) menjadi pilihan yang sampai saat ini masih rasional: “Model CNN kami mampu mendeteksi pola-pola lokal dalam sekuens DNA, membantu mengenali anomali yang mungkin menunjukkan awal dari kerusakan jaringan atau predisposisi penyakit,” jelas Risa.
Risa juga menjelaskan tentang pemanfaatan model Recurrent Neural Networks (RNN) atau Transformer untuk menangani data sekuensial, seperti urutan varian yang muncul dalam waktu tertentu, model RNN atau Transformer menjadi ideal untuk diimplementasikan.
Selain itu Risa juga menjelaskan tentang model Ensemble Learning yang juga mereka gunakan: “Kami juga menggabungkan model-model tersebut dengan metode ensemble learning; misalnya, mengintegrasikan output dari model deep learning dan pohon keputusan seperti Random Forest. Pendekatan ini meningkatkan stabilitas dan akurasi prediksi,” tambahnya.
Selanjutnya kata Risa, dataset terlabel yang besar, yang berisi data genomik dan outcome klinis, digunakan untuk melatih model. Teknik validasi seperti k-fold cross validation dan evaluasi metrik (ROC-AUC, precision, recall) dapat memastikan performa model akan optimal.
Pendekatan Bayesian Inference juga diterapkan untuk mengelola ketidakpastian data dan menghasilkan estimasi probabilistik risiko penyakit.
Di slide Risa selanjutnya terdapat penjelasan tentang Inference, Risk Scoring, dan Explainable AI (XAI). Di mana setelah model terlatih, data genomik baru dapat dianalisis secara real-time. Sistem AI mengubah data yang masuk menjadi fitur, melakukan inferensi, dan menghasilkan skor risiko; misalnya, rendah, sedang, atau tinggi.
“Penting bagi dokter untuk memahami faktor apa saja yang berkontribusi pada skor risiko tersebut,” ujar Risa. Oleh karena itu, teknik XAI digunakan untuk menyediakan interpretasi mendalam tentang prediksi, sehingga memudahkan pengambilan keputusan klinis.
Slide dilanjutkan dan topik bertajuk Penerapan dalam Sport Genomics, Nutrigenomics, dan Lifestyle Genomics tampil di layak interaktif. Risa tidak berhenti pada penjelasan teknis sistem AI. Ia juga mengaitkan teknologi tersebut dengan upaya meningkatkan kualitas hidup manusia secara menyeluruh:
Risa menunjuk pada frasa Prediksi Resiko Penyakit, “Dengan memanfaatkan AI, Widya Genomik dapat mendeteksi kecenderungan penyakit seperti kardiovaskular, diabetes, atau kanker jauh sebelum gejala muncul. Ini memungkinkan intervensi dini dan perawatan yang lebih personal.” Demikian terangnya dengan bernas.
Risa melanjutkan dengan topik Sport Genomics, “Genomik olahraga membantu kita memahami potensi atletik seseorang. Dengan mengetahui kecenderungan genetik, kami bisa merancang program olahraga yang tidak hanya meningkatkan performa tetapi juga mencegah cedera,” jelas Risa.
Sedangkan Nutrigenomics menurut Risa adalah analisis genomik yang mengungkap bagaimana tubuh merespons berbagai asupan nutrisi. Hasil ini memungkinkan rekomendasi pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan individual untuk mengoptimalkan metabolisme dan kesehatan pencernaan.
Nah ini bagian yang membetot segenap perhatian audiens, Lifestyle Genomics. Masih menurut Risa, data genomik dapat memberikan wawasan tentang bagaimana faktor-faktor seperti aktivitas sosial dan pola hidup mempengaruhi kesehatan. Risa menekankan bahwa, “Aktivitas fisik, interaksi sosial, dan kebiasaan hidup lainnya dapat disesuaikan dengan profil genetik, menciptakan strategi gaya hidup yang meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.”
Risa menutup presentasinya dengan sebuah visi futuristik:
“Di Widya Genomik, kami percaya bahwa integrasi data genomik dan AI bukan hanya tentang teknologi; ini adalah tentang menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Dengan sistem yang kami kembangkan, mulai dari tahap pengumpulan data, variant calling, hingga analisis mendalam oleh model AI, setiap langkah dirancang untuk memberikan informasi yang akurat dan mendalam. Ini bukan hanya sebuah kemajuan teknis, tetapi sebuah revolusi dalam cara kita memahami dan merawat kesehatan.”
Para hadirin terpukau oleh penjelasan mendalam Risa, yang tidak hanya menjelaskan kerangka teknis pengembangan AI untuk analisa genomik secara lengkap, mulai dari preprocessing data, ekstraksi fitur, pemilihan model, hingga penerapan algoritma seperti CNN, RNN, ensemble learning, Bayesian inference, dan explainable AI; tetapi juga menggambarkan dampak nyata teknologi tersebut terhadap kehidupan manusia. Dengan rekomendasi personal di bidang olahraga, nutrisi, dan gaya hidup, Widya Genomik membuka jalan bagi era baru perawatan kesehatan yang lebih personal dan proaktif.
Di akhir sesi, diskusi pun berlangsung hangat. Banyak peserta yang bertanya tentang tantangan implementasi, keamanan data, dan integrasi sistem dengan infrastruktur klinis yang sudah ada. Risa menjawab dengan yakin bahwa melalui penggunaan cloud computing, data warehousing, dan API interaktif, sistem ini tidak hanya scalable tetapi juga aman dan mudah diintegrasikan dengan sistem informasi kesehatan modern/nasional seperti Satu Sehat.
Kisah (semi fiksi) tentang Risa Shofia dan Widya Genomik merupakan gambaran tentang masa depan kedokteran yang semakin bergantung pada sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi AI, dan pemahaman mendalam tentang genom manusia. Dengan inovasi sejenis ini, kualitas hidup manusia tidak lagi bergantung pada dugaan semata, melainkan didukung oleh data yang akurat dan prediksi yang terpersonalisasi; sebuah lompatan besar menuju dunia dengan manusia yang lebih sehat dan sejahtera secara holistik.
🙏🏾🙏🏾🩵
Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.