ALKEMI
Januar Dwi Harisandy, planoloog muda alumni UB Malang yang amat concern pada perencanaan tata ruang wilayah yang dengan pendekatan berwawasan lingkungan, menanyakan kepada saya tentang proses produksi isobutana. Senyawa yang saya usulkan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi dampak eksploitasi berlebih sumber daya air di proyek geotermal.
Mendapat pertanyaan itu, pikiran saya sontak melayang ke masa-masa dimana saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Salah satu pelajaran yang selalu membuat saya penasaran, meski saya tidak terlalu berprestasi juga di kelas pelajaran itu, adalah kimia.
Ada pengaruh kuat juga dari Ibu yang berkuliah di Teknik Kimia ITB, dan senantiasa menceritakan betapa asyiknya mempelajari kimia dari berbagai aspek itu. Ibu masih ingat dengan persis apa yang dilakukannya saat menjalankan praktikum kimia di lab, ataupun juga saat menerapkannya di industri pada saat kerja praktek di Surabaya.
Ilmu kimia adalah fondasi dari berbagai kemajuan peradaban manusia. Mulai dari peradaban kuno yang menggunakan logam sederhana hingga kompleksitas material modern, kimia telah membentuk jalan perkembangan teknologi dan industri. Dalam sejarahnya, ilmu kimia berevolusi dari praktik alkimia kuno menjadi ilmu eksperimental yang sistematis berkat kontribusi tokoh-tokoh besar seperti Antoine Lavoisier, John Dalton, Dmitri Mendeleev, hingga para peraih Nobel abad ke-20.
Ndilalah saat saya masuk FK salah satu PTN ternama di Jawa Tengah pada tahun 1989, saya kok mendapat seorang sahabat dekat yang bernama Tosan Alkemi. Tosan kerap dihubungkan dengan frasa Tosan Aji, atau senjata pusaka dari logam, dan Alkemi tentulah istilah timur tengah untuk kimia.
Tosan Alkemi ini akhirnya memang sesakti senjata pusaka yang kadang menggunakan material batuan dan logam dari meteor atau batu satam. Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD di daerah tingkat II asalnya.
Nama Alkemi dari Mas Tosan ini membuat saya jadi senantiasa teringat akan betapa pentingnya kontribusi peradaban Islam dalam perkembangan ilmu kimia. Alkimia, yang berkembang di Timur Tengah (Islam) dan pengaruhnya di Eropa, merupakan cikal bakal kimia modern yang banyak inovasinya kita nikmati hari ini. Para al-kimiawan pada saat itu tertarik pada transmutasi logam “biasa” menjadi emas dan juga berfokus pada pencarian “eliksir kehidupan”.
Sementara kemajuan metodologi penelitian dan pendekatan saintifik yang terstruktur dan sistematik di era kejayaan kimia Timur Tengah, telah menghasilkan antara lain; penemuan alat distilasi, asam-asam mineral (HNO3, H2SO4, HCl), dan perintisan teknik laboratorium yang merupakan warisan penting dari era ini untuk masa depan.
“Kimia adalah pusat di antara semua ilmu karena ia berhubungan dengan sifat fundamental zat, yang menjadi blok pembangun segalanya di semesta.”; Terinspirasi dari Chemistry: The Central Science*
Tak dapat dipungkiri bahwa era kejayaan Islam (sekitar abad ke-8 hingga ke-14 M) adalah masa subur perkembangan berbagai disiplin ilmu, termasuk kimia. Pada masa itu, banyak pemikir Muslim yang mengembangkan teknik-teknik eksperimental dan sistematisasi pengetahuan yang kelak menjadi fondasi ilmu kimia dan sains modern.
Walaupun istilah yang sering digunakan kala itu adalah al-kīmiyā (alkimia) yang jika didengar sekilas berkesan eksotik dan magik, para cendekiawan Muslim pada masa itu bukanlah sekadar “pencari batu filsuf” atau the philosopher stone. Juga bukan pengejar “transmutasi logam menjadi emas”, melainkan juga pencetus metode ilmiah berbasis eksperimen serta pengembangan alat-alat laboratorium yang menunjang berbagai eksperimen ilmiah. Dimana eksperimen dengan peralatan laboratorium hasil invensi para cendekiawan di jaman itu, telah memberikan banyak terobosan pada konteks pengembangan dan penerapan ilmu (kimia) di kehidupan nyata. Bahkan alat-alat atau prinsip pengujiannya, sampai hari inipun masih dilakukan di laboratorium-laboratorium kimia.
Keberadaan Bayt Al Hikmah di Baghdad, di penghujung milenial pertama, telah memantik terjadinya pengembangan ilmu sains yang pesat. Terutama setelah diterjemahkannya naskah-naskah Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab, sebagai referensi awal.
Karya-karya tulis di ranah ilmu kimia (alkimia) dari Zosimus, Pseudo Democritus, dan beberapa sumber lain diadopsi dan diolah lebih lanjut, lalu dikembangkan menjadi modul ilmiah terstruktur. Dengan berbekal kepustakaan awal tersebut para cendekiawan Muslim mengembangkan konsep repository pengetahuan dan mengeksplorasinya lebih lanjut.
Tokoh-tokoh cendekiawan penting di era ini antara lain adalah Jābir ibn Hayyān (Geber) (abad ke-8–9 M) “Bapak Kimia Islam” atau “Bapak Kimia Eksperimental”. Jabir Ibnu Hayyan telah menulis lebih dari 100 risalah ilmiah, beberapa di antaranya adalah Kitāb al-Kīmyā (diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Inggris menjadi Book of the Composition of Alchemy).
Dengan kapasitasnya sebagai ilmuwan yang cerdas dan sholeh, kontribusi Jabir al Hayyān antara lain adalah pengembangkan metode laboratorium untuk proses destilasi, sublimasi, kristalisasi, dan filtrasi. Jabir juga banyak menciptakan atau menyempurnakan peralatan laboratorium (retort, alembik).
Jabirpun meneliti sifat-sifat asam-basa, serta klasifikasi logam dan mineral. Konsep “Takwin” yang dicetuskannya adalah upaya untuk memahami proses pembentukan logam, bukan hanya soal “transmutasi” alkimia, tetapi juga pendekatan rasional untuk mempelajari perubahan materi.
Tokoh cendekiawan lainnya adalah Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya al-Razi (Al-Razi/Rhazes) (865–925 M). Beliau menulis Kitāb al-Asrār (buku rahasia) yang memuat banyak teknik kimia praktis, serta karya medis terkenal seperti al-Hāwī.
Kontribusi Al Rhazes dalam bidang ilmu kimia dan farmasi antara lain adalah sebagai inisiator model eksperimen terkontrol untuk kimia dan ilmu farmasi. Al Rhazes menggunakan eksperimen terkontrol dalam memurnikan zat kimia dan meracik obat. Beliau juga memanfaatkan berbagai asam mineral yang berhasil direaksikannya di lab, dan patut diduga beliaulah cendekiawan yang bisa membedakan vitriol (FeSO₄) dan asam sulfat (H₂SO₄), sekaligus mempelajari senyawa kaustik (NaOH, KOH). Al Rhasespun engembangkan penggolongan zat berdasar reaksi kimia.
Cendekiawan besar lainnya di bidang sains dasar dan terapan terkait dengan kemajuan ilmu kimia di masa itu antara lain adalah; Abu ‘Ali al-Husayn ibn Sina (Ibn Sina/Avicenna) (980–1037 M). Karya beliau yang sangat terkenal adalah Al-Qānūn fī al-Ṭibb (Canon of Medicine).
Sementara kontribusi beliau di ranah kimia-farmasi adalah menjelaskan banyak zat kimia untuk keperluan medis, serta mengintegrasikan pendekatan kimia dan farmakologi dalam sistem pengobatan holistik yang kelak menjadi dasar bagi pengembangan ilmu kesehatan di masa depan.
Kemudian ada Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi (Al-Kindi) (801–873 M) yang menulis tentang parfum, distilasi parfum, dan cara standarisasi kualitas aroma. Kontribusinya antara lain adalah mengintegrasikan pendekatan filsafat, matematika, dan kimia. Dimana pendekatan aplikatif seperti pembuatan parfum atau minyak wangi pada masa itu tenyata sudah menggunakan pendekatan kimia.
Pencapaian utama dalam hal teknik dan metodologi eksperimen di era cendekiawan Muslim maujud dalam perangkat eralatan laboratorium keren seperti Alembik (al-imbīq), yang merupakan alat destilasi yang dikembangkan untuk membantu proses pemisahan zat. Lalu ada retort, kerot, dan labu khusus untuk sublimasi. Serta tentu saja teknik pembuatan peralatan gelas berkualitas tinggi dari bahan silika yang memudahkan pengamatan reaksi kimia.
Para kimiawan Muslim mulai menuliskan prosedur, mencatat kuantitas zat, mengukur waktu dan suhu, yang menjadi cikal bakal metode ilmiah. Konsep replikasi eksperimen juga dikembangkan sedemikian rupa, agar hasil eksperimen dapat diverifikasi dan direplikasi. Inilah awal dari lahirnya metoda penulisan jurnal ilmiah ataupun artikel hasil penelitian.
Terobosan lain di masa itu antara lain adalah pembuatan serta pemurnian asam kuat seperti asam nitrat (HNO₃), asam sulfat (H₂SO₄), dan asam klorida (HCl). Juga penemuan alkali kuat (NaOH) yang kemudian menjadi dasar bagi reaksi kimia pemurnian sabun, logam, pewarnaan kain, dan proses penyamakan kulit.
Di bidang kedokteran dan farmasi, kontribusi para cendekkawan kimia di era itu adalah mekanisme pengembangan obat-obatan, salep, antiseptik, dan prosedur operasi (integrasi antara keahlian Al-Razi dan Al-Zahrawi). Sedangkan di bidang metalurgi, telah dimulai pengembangan teknik penempaan logam, pembuatan baja Damaskus, dan analisis kandungan logam.
Kemajuan itu juga diikutu dengan pengembangan teknik pewarnaan dan kosmetika. Dimana penggunaan turunan sulfur, merkuri, dan logam lain mulai digunakan untuk menghasilkan pigmen dan cat.
Tulisan-tulisan Jabir ibn Hayyān, Al-Razi, dan cendekiawan lainnya diterjemahkan ke bahasa Latin pada Abad Pertengahan, dan amat mempengaruhi wawasan para ilmuwan Eropa seperti Albertus Magnus, Roger Bacon, dan akhirnya Antoine Lavoisier. Ilmu kimia Barat banyak berhutang pada catatan eksperimen, prosedur, dan alat laboratorium yang dikembangkan pada era kejayaan Islam.
Karena era rintisan di masa kejayaan cendekiawan Muslim tersebut, pada gilirannya kita mengenal berbagai produk yang berasal dari perkembangan ilmu kimia. Kita pun kini menggunakan begitu banyak reaksi kimia dalam berbagai aspek kehidupan kita. Mulai dari memasak, membangun rumah, membuat alat kebutuhan rumah tangga, merancang dan menggerakkan alat transportasi, menghasilkan energi, sampai mengembangkan obat, pupuk, kosmetika, bahan tekstil untuk pakaian, baterai kendaraan EV, materi untuk struktur pesawat, dan banyak elemen peradaban lainnya yang semua dilahirkan dari rahim kecendekiawanan ilmu kimia alias alkemi.
Maka pada saat kita berada dalam rumah yang kokoh, aman, dan nyaman dengan pendingin ruangan (AC) dan kulkas yang menjanjikan kesegaran buah-buahan, daging, dan sayur di dalamnya, sepulang kita dari bepergian dengan kendaraan, maka tak satupun unsur yang disebut di atas yang bukan hasil reaksi kimia.
Peradaban logam terbangun karena adanya unsur besi, dimana besi umumnya diperoleh dari bijih besi seperti hematit (Fe2O3) atau magnetit (Fe3O4). Pada proses di tanur tinggi (blast furnace), besi(III) oksida direduksi oleh karbon (kokas) atau karbon monoksida (CO). Reaksi utamanya adalah sebagai berikut;
Fe2O3 + 3CO -> 2Fe + 3CO2
Proses ini melibatkan reaksi redoks (Fe2O3 direduksi menjadi Fe elemental).
Besi menjadi fondasi revolusi teknologi (zaman besi), memfasilitasi pembuatan alat dan senjata. Besi berperan sebagai bahan baku utama industri baja untuk konstruksi, otomotif, dan mesin.
Maka jika tulangan beton rumah kita terbuat dari besi baja, maka dindingnya tentulah memerlukan semen bukan? Semen juga produk hasil reaksi kimia? Ya iyalah kawan. Semen Portland mengandung kalsium silikat, seperti tricalcium silikat (3CaO·SiO2, disebut “alit”) dan dicalcium silikat (2CaO·SiO2, disebut “belit”).
Saat dicampur air, terjadi reaksi hidrasi yang membentuk kalsium silikat hidrat (C-S-H) dan kalsium hidroksida (Ca(OH)2).
Reaksi kimianya kira-kira demikian,
3CaO·SiO2 + H2O -> C-S-H + Ca(OH)2
Sementara cara pembuatan semen secara ringkas adalah sebagai berikut, bahan baku yang terdiri dari batu kapur (CaCO3), tanah liat (kaya SiO2, Al2O3), dan sedikit bijih besi, digiling dan dicampur hingga homogen.
Selanjutnya dilakukan proses kalsinasi di rotary kiln pada suhu ~1450 °C hingga terbentuk clinker. Clinker kemudian digiling bersama gipsum (CaSO4·2H2O) untuk mengatur waktu pengerasan, menghasilkan semen Portland yang siap untuk digunakan untuk membuat beton dll.
Nah setelah tiba di rumah yang kokoh karena dibangun dengan tulangan besi baja dan semen produksi Tiga Roda, maka rasa laparpun datang mendera. Kulkas segera dibuka, dan sayur-sayuran segar tersedia di sana. Sayur hasil pertanian yang subur. Pertanian yang membutuhkan penyubur atau pupuk.
Salah satu senyawa utama yang banyak digunakan dalam pupuk adalah Amonia. Amonia adalah gas yabf bersifat alkali dan sangat penting sebagai bahan baku pupuk nitrogen.
Proses Haber-Bosch menggabungkan N2 dari udara dan H2 (umumnya diperoleh dari gas alam) dengan katalis besi. Reaksi utamanya:
N2 + 3H2 -> 2NH3
reaksi ini dilakukan pada tekanan tinggi (150–300 atm) dan suhu 400–500 °C.
Amonia yang dihasilkan adalah umber nitrogen untuk pupuk (mis. urea, ammonium nitrat), serta ahan baku untuk menghasilkan banyak senyawa kimia lain (asam nitrat, bahan peledak, dsb.). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa amonia berpotensi sebagai calon bahan bakar atau media penyimpanan hidrogen.
Setelah perut kenyang dan piring kotor harus dibersihkan, kitapun mencuci piring tersebut dengan mudah karena adanya deterjen. Nah proses pembuatan deterjen itu pastilah melalui proses kimiawi bukan? Salah satu asam mineral kuat dan punya banyak peran dalam produksi berbagai kebutuhan harian manusia, termasuk deterjen, adalah asam sulfat atau H2SO4.
Asam Sulfat kerap disebut sebagai “Raja Bahan Kimia” karena penggunaannya yang luas. Asam kuat diprotik dan bersifat higroskopis ini, kuat dalam reaksi dehidrasi serta efektif digunakan untuk produksi pupuk (amonium sulfat), produksi obat, dan pemrosesan logam dll.
H2SO4 dihasilkan melalui proses kontak (Contact Process) yang meliputi pembentukan SO2 dengan membakar belerang (S + O2 -> SO2) atau roasting bijih sulfida. Dilanjutkan dengan proses oksidasi SO2 menjadi SO3 dengan katalis V2O5 (SO2 + 1/2O2 -> SO3). Lalu SO3 direaksikan dengan H2SO4 pekat membentuk oleum (H2S2O7), lalu dicampur air membentuk H2SO4.
Makanan yang tersisa dari proses masak dan akan kita masukkan lagi ke dalam kulkas pastilah kita wadahi dalam kemasan. Dimana kemasan ini dan juga banyak perabot rumah tangga lainnya biasanya terbuat dari plastik. Salah satu jenis plastik yang kerap digunakan adalah Polietilena atau PE.
Polietilena dibuat dari monomer etilena (CH2=CH2) melalui reaksi polimerisasi. Bisa melalui polimerisasi radikal bebas (tekanan tinggi) atau katalis Ziegler-Natta (tekanan lebih rendah). Reaksi polimerisasi sederhananya adala:
n(CH2=CH2) -> -(CH2-CH2)-n
Dalam skala besar plastik PE diproduksi melalui tahapan sebagai berikut; Etilena yang diperoleh dari cracking hidrokarbon di kilang minyak/petrokimia, dipolimerisasi melalui proses bertekanan tinggi (2000–3000 atm, suhu 200–300 °C) -> menjadi LDPE yang dengan bantuan katalis Ziegler-Natta (tekanan/suhu lebih rendah) -> menjadi HDPE. Lalu polimer yang sudah jadi dibentuk menyerupai pelet/butiran, lalu dicetak (injeksi, ekstrusi, blow molding). Siap digunakan sebagai perabotan.
Lalu makanan dalam kemasan berbahan plastik PE supaya awet kita masukkan ke dalam kulkas. Dan tentu saja agar kita tidak gerah, maka kita akan hidupkan AC bukan? Bagaimana AC dan kulkas bisa menghasilkan udara dingin? Salah satunya karena adanya zat “refrigerant”. Salah satu bahannya adalah isobutana.
Isobutana merupakan isomer dari butana dengan rumus kimia C4H10. Berbeda dari n-butana yang rantainya lurus (CH3-CH2-CH2-CH3), isobutana memiliki cabang (CH3)3CH atau 2-metilpropana.
Kegunaan isobutana antara lain adalah sebagai bahan baku di industri petrokimia (misalnya dalam proses alkilasi untuk membuat bensin dengan oktan tinggi). Juga sebagai refrigeran (pengganti CFC pada AC, kulkas, dsb.) karena memiliki potensi perusakan ozon yang rendah.
Isobutana juga dapat muncul sebagai salah satu komponen pada produk samping dari proses fluid catalytic cracking (FCC) atau hidrocracking di kilang minyak, walau jumlahnya bervariasi. Isobutana dan butana (beserta isomer hidrokarbon rantai pendek lain) kemudian dapat dipisahkan melalui distilasi fraksional.
n-Butana diperoleh dari fraksi LPG (Liquefied Petroleum Gas) atau output distilasi kilang. n-Butana dilewatkan melalui reaktor berisi katalis asam (mis. Pt/Alumina terklorinasi) pada suhu dan tekanan tertentu. Hasil reaktor didinginkan, lalu masuk ke kolom distilasi/pemisahan. Sisa n-butana yang belum terisomerisasi dapat dikembalikan ke reaktor (loop) untuk meningkatkan efisiensi. Isobutana murni dipakai sebagai feedstock untuk alkilasi (pembuatan bahan bakar beroktan tinggi) atau diproses lebih lanjut untuk keperluan industri/refrigeran.
Tapi ternyata perjalanan kita dari kantor ke rumah dengan mobil yang berbahan bakar bensin dan proses penyimpanan makanan dalam kemasan plastik serta pengawetan di kulkas serta ruang yang nyaman karena ber AC, dimulai dari proses kimia yang sama. Loh kok bisa? Bisa dong, kan semua berasal dari refinering minyak bumi yang terdiri dari rangkaian hidrokarbon.
Minyak mentah (crude oil) adalah campuran kompleks berbagai hidrokarbon dan komponen lainnya, sehingga setiap tahap memiliki fungsi dan proses kimia/fisika spesifik. Untuk itu agar dapat dimanfaatkan setiap fraksinya, perlu dilakukan tahapan refinering secara bertingkat. Diawali dengan proses distilasi bertingkat (Fractional Distillation) berdasarkan prinsip perbedaan titik didih komponen hidrokarbon.
Minyak mentah dipanaskan hingga sebagian besar komponen menguap, lalu uap naik dalam kolom distilasi. Komponen dengan rantai karbon lebih ringan (titik didih rendah) terkondensasi di bagian atas kolom, sedangkan komponen lebih berat (titik didih tinggi) di bagian bawah.
Minyak mentah dipanaskan dalam furnace hingga ±350 °C. Uap hidrokarbon masuk ke kolom fraksinasi. Tiap tray/taraf suhu mengembunkan fraksi berbeda (misal: fraksi gas, nafta, kerosin, diesel, minyak berat, residu). Hasilnya antara lain adalah ; gas ringan: C1–C4 (mis. CH4, C2H6, C3H8, C4H10), Nafta (bensin mentah): C5–C12, minyak tanah/Kerosin: ~C10–C16, solar/Diesel/Gas Oil: ~C12–C20, dan residu: >C20.
Tahap selanjutnya dari pemrosesan bertingkat minyak bumi adalah konversi atau cracking. Diawali dengan thermal cracking yang nemecah rantai hidrokarbon berat (molekul panjang) menjadi hidrokarbon lebih ringan, dengan penggunaan suhu tinggi (450–750 °C), dan tekanan tinggi.
Contoh reaksinya:
C16H34 → C8H18 + C8H16
Lalu dilanjutkan dengan Catalytic Cracking (FCC – Fluid Catalytic Cracking) dengan menggunakan katalis padat berbahan zeolit untuk memecah fraksi berat (gas oil) menjadi fraksi lebih bernilai (mis. bensin, diesel ringan). Suhu yang digunakan sekitar 450–550 °C, tekanan moderat, disertai katalis beredar (fluidized bed). Contoh reaksi:
C12H26 → C7H16 + C5H10
Proses terakhir adalah Hydrocracking yang menggunakan hidrogen (H2) dan katalis logam (mis. Ni-Mo, Pt) pada suhu tinggi (350–450 °C) dan tekanan tinggi (100–200 atm). Tahap ini menghasilkan produk dengan kadar sulfur rendah dan struktur rantai lebih stabil. Contoh reaksi:
C16H34 + H2 → C8H18 + C8H18
Apakah proses di kilang ini sudah selesai? Tentu saja belum. Reaksi kimia yang diperlukan untuk menghasilkan bahan bakar yang baik dan produk turunan lainnya masih berlanjut, maka sekolah di teknik perminyakan di ITB juga perlu waktu sekurangnya 4 tahun bukan?
Proses berikutnya yang perlu dilakukan adalah Reforming yang bertujuan untuk meningkatkan nilai oktan bensin dengan mengubah struktur rantai lurus menjadi siklik atau aromatik. Biasanya reforming menggunakan katalis Pt atau Pt-Re pada alumina, dengan suhu ±500 °C, tekanan rendah hingga sedang. Reaksinya:
– N-heptana (C7H16) → toluena (C7H8) + 4H2
– N-heksana (C6H14) → sikloheksana (C6H12) + H2
Proses reforming menghasilkan gas hidrogen (H2) sebagai produk samping, berguna dalam tahap lain seperti hydrocracking atau hydrodesulfurization, yang bertujuan untuk menghilangkan sulfur dari fraksi minyak dengan mereaksikannya bersama hidrogen di hadapan katalis (Co-Mo, Ni-Mo). Gunanya untuk mencegah terbentuknya SO2 saat bahan bakar dibakar. Suhu yang digunakan berkisar 300–400 °C, tekanan 20–100 atm. Reaksi dasarnya:
R–S + H2 → R–H + H2S
(“R–S” mewakili gugus sulfur dalam molekul hidrokarbon.)
Hidrogen sulfida (H2S) yang terbentuk diproses di unit Claus untuk menghasilkan belerang (S).
Tahap berikutnya adalah Alkilasi dan Polimerisasi. Di mana Alkilasi menggabungkan isobutana (i-C4H10) dengan olefin (mis. butena, C4H8) menggunakan asam kuat (HF atau H2SO4) sebagai katalis. Proses ini menghasilkan alkilat, yaitu komponen bensin dengan angka oktan tinggi.
Contoh reaksi :
i-C4H10 + C4H8 → C8H18 (isooktana, sebagai representasi)
Sedangkan Polimerisasi bertujuan untuk menggabungkan olefin rantai pendek (C2–C4) menjadi rantai lebih panjang untuk meningkatkan oktan.
Contoh reaksi:
n(C3H6) → polipropilena (pada proses petrokimia),
Namun dalam refinery, polimerisasi lebih untuk membentuk bahan bakar komersial, bukan plastik murni. Tapi dalam industri petrokimia dan kimia hulu, tentu saja proses ini ditujukan untuk mendapatkan bahan baku plastik. Plastik yang dibuat wadah makanan saya salah satunya.
Tahap akhir dalam proses refinery bahan bakar adalah Blending, di mana berbagai fraksi dicampur (mis. reformate, alkilat, komponen diesel, dsb.) untuk menghasilkan bahan bakar dengan spesifikasi tertentu (nilai oktan, cetane number, sulfur content, dsb.). Rumit juga bukan? Itulah alasan para profesional di bidang ini juga punya salary yang tinggi.
Sepertinya tulisan di sore hari Imlek ini sudah kepanjangan ya? Maka dengan mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Januar Dwi Harisandy dan Bapak Tosan Alkemi yang saya hormati, sebagai sumber inspirasi tulisan kali ini, kita akhiri dengan bersama-sama berseru : Hidup Alkemi 🙏🏾🙏🏾🩵