Dongeng Pagi Tatar Priangan
Sahabat saya Rizal Rickieno yang kini berstatus PhD student di Griffith Uni Oz pernah intern di Karlsruhe selama beberapa bulan. Mungkin ia tak menyadari bahwa Karslruhe memiliki hubungan erat dengan tanah kelahirannya, Bandoeng.
Loh kok bisa ? Lewat mana ? Tim sepak bola ? Sister city ? Atau apa ya ? Jauh-jauh-jauh lebih tua dari itu semua ada sebuah kisah tentang rindunya anak manusia pada kampung halaman nan jauh di mata. Kerinduan itu apapun alasan formalnya adalah hal paling fundamental dalam benak setiap anak manusia. Suasana asal dan keterikatan bathin yang mengakar pada lingkungan awal membuat kaum kolonis Belanda kangen dengan negerinya. Sebuah negeri kecil yang tak lebih besar dari propinisi Jawa Barat. Dengan dalih isu strategis dan lainnya mereka keukeuh ingin membangun stasiun radio yang bisa memintasi ruang selebar 12.000 km.
Marconi membuka mata dunia tentang gelombang elektromagnetik yang dapat membawa pesan. Nikolai Tesla pun demikian. Kabel yang semula menjadi hambatan, kini dapat disiasati dengan gelombang radio.
Tersebutlah seorang insinyur jenius bernama Cornelis Johannes de Groot. Dia adalah ahli teknik elektro lulusan Technische Hogeschool, Karlsruhe, Jerman, di mana disertasinya berjudul pengaruh iklim tropis pada koneksi radio. Nah di sinilah sebenarnya titik temu antara Kang Rizal dengan Kang De Groot, mereka pernah sama-sama di Karlsruhe dan sama-sama terikat dengan daya pikat Bandung.
Kang De Groot ini jago pisan kalau soal transmisi, antena, frekuensi, dan gelombang radio. Dialah tokoh besar Hindia Belanda yang membangun banyak stasiun Radio di Nusantara.
Di awal abad ke 20, tepatnya di sekitaran tahun 20an, pemerintah Hindia Belanda pasca perang dunia I merasa perlu untuk membangun jaringan komunikasi dengan negeri leluhur. Untuk itu Kang De Groot diminta mencari lokasi dan desain yg paling ideal. Setelah bertapa dan bersemedi serta melakukan ritual pelana, maka ia memilih gunung Puntang Malabar sebagai lokasi dengan potensi memiliki kekuatan transmisi gelombang terkuat yang amat dibutuhkan untuk menjangkau negeri Belanda. Metoda transmisi gelombang panjang ia pilih sebagai opsi utama radio Puntang Malabar ini. Listrik yang dibutuhkan amat besar, sampai pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun beberaoa PLTA. Juga beberapa pemasok peralatan pemancar dan listrik yang industrinya sudah berkembang dilibatkan.
Data sejarah mencatat bahwa Willem Smit & Co’s Transformatorenfabriek menjadi pemasok kumparan besar dan beberapa trafo. Sementara generator dipasok oleh Smit Slikkerveer. Dan sebagai pendukung tenaga listrik, dibangun PLTA Dago, PLTA Plengan dan PLTA Lamadjan, serta PLTU di Dayeuhkolot (sumber situs daring RRI). Keren kan ? Bandung Raya itu sejak zaman Belanda sudah mengenal konsep energi baru dan terbarukan.
Untuk apa PLTA-PLTA tersebut dibangun ? Ya tentu saja antara lain untuk mencatudayai Radio Malabar yang pemancarnya fix ditempatkan di antara gunung Puntang dan Halimun. PLTA digunakan untuk membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20 kilometer sampai 75 kilometer. Teknologi yang digunakan adalah teknologi ‘busur listrik’ untuk pemancar telegraf dan telepon radio, yang membutuhkan tenaga 750 Volts dan daya 1 MA.
Singkat cerita jadilah Stasiun Radio Malabar dilengkapi dengan 2 arc transmitter berkekekuatan 2.400 KW.
Bagaimana keren pisan kan dongengnya ?
Tapi tentu tak hanya itu saja, ngapain Kang Rizal Rickieno belajar jauh-jauh keliling dunia, dari Brisbane, Riyadh, sampai ke Karlsruhe kalau cuma terpesona dan terpana dengan fakta sejarah, tanpa menguyah dan menyerap maknanya ?
Maka Kang Rizal pun berpikir tentang komunikasi masa kini dan nanti dari apa yang dipelajarinya dari masa lallu. Jaman buhun ceunah.
Kang Rizal sedikit banyak tahu bahwa era 5G, LORA-LORAWAN, IoT, sampai teknologi satelit nano akan terlalui. Akan tiba era baru, era Neutrino. Komunikasi Neutrino. Komunikasi alam ghoib, yang tak diragukan lagi ada dan bercokol di semesta. Sifat la roiba fihi ini maujud dalam hukum-hukum alam dasar yang memaksa nalar untuk menelaah tak hanya sekadar daun tapi juga pokok, batang, dan akar dari pohon pengetahuan karya Zat Yang Maha Akbar.
Mengacu dan menyadur artikel semi populer Kang Apriadi Adam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, sekarang BRIN, di harian Kompas, secara teoritis saat ini setidaknya diketahui ada empat interaksi fundamental yang ada di alam semesta, yang bertanggung jawab terhadap berbagai interaksi antar materi.
Mengapa interaksi yang dipelajari dalam konteks hukum dasar ? Karena banyak benda ghoib tak dapat diukur dan dipindai secara langsung keberadaannya, melainkan dapat ditelusuri jejak kehadirannya melalui serangkaian pengamatan pada efek yang ditimbulkan akibat proses interaksinya.
Gampangnya seperti saat kita melihat jejak tapak kaki di jalan setapak menuju puncak gunung. Kita dapat menyimpulkan bahwa ada orang yang telah mendaki di depan kita. “ada orang” dalam konteks ini sesungguhnya tidak kita lihat langsung, akan tetapi kita tahu karena ada pola interaksi antara kaki/sepatu dengan tanah yang maujud dalam bentuk jejak.
Kembali kepada jejak hukum dasar semesta yang terlacak melalui proses interaksinya, ternzata menurutbpara ilmuawan ada 4 bentuk/model interaksi yg terjadi di semesta. Keempat model interaksi tersebut adalah interaksi gravitasi, interaksi elektromagnetik, interaksi lemah dan interaksi kuat. Pada tahun 1960an, S. L. Glashow, A. Salam, and S. Weinberg mengusulkan suatu model untuk menjelaskan interaksi kuat, interaksi lemah dan interaksi elektromagnetik dalam satu teori yang padu, yaitu teori model standar fisika partikel.
Model ini terdiri atas keluarga quark (yaitu partikel up, down, charm, strange, top dan bottom) dan family lepton (elektron, neutrino elektron, muon, neutrino muon, tau dan neutrino tau).
Partikel yang bertanggungjawab sebagai pembawa/perantara interaksi, antara lain adalah graviton (interaksi gravitasi, gluon (interaksi kuat), foton (interaksi elektromagnetik), Z dan W (interaksi lemah) dan partikel Higgs.
Seluruh partikel ini dapat dibedakan lagi berdasarkan spin/putaran dan arahnya, menjadi partikel fermion (spin-1/2, partikel quark dan lepton selain partikel pembawa interaksi) dan partikel boson (spin-0, yaitu partikel Higgs dan spin-1 untuk seluruh partikel pembawa interaksi).
Ketika kita berbicara tentang Neutrino dan kemungkinannya untuk dimanfaatkan sebagai media pembawa pesan yang efektif, maka kita perlu dong sedikit banyak mengetahui bagaimana sifat Neutrino ini.
Tentu tetap dengan azas mengamati pola interaksi yang terjadi saat kehadiran atau eksistensi Neutrino diduga hadir dalam berbagai reaksi antar partikel sub atomik. Interaksi partikel neutrino dengan partikel lain dapat ditemui dalam peluruhan beta (proses peluruhan radioaktif partikel beta, misalnya elektron atau positron), yaitu partikel neutron meluruh menjadi partikel proton, elektron dan anti-neutrino elektron.
Karena neutrino hampir tak bermassa dan bebas gravitasi serta kecepatannya setara atau bahkan dapat lebih cepat dari cahaya, serta memiliki kemampuan menembus materi, maka komunikasi masa depan yg berbasis Neutrino akan dapat mempersempit ruang dan membangun interkoneksi tanpa perlu bantuan satelit dll.
Tapi jangan salah loh, kita tuh tetap harus banyak belajar dari sejarah. Secanggih apapun teknologi yang hari ini dapat kita nikmati dan eksploitasi, ada banyak kearifan yang semestinya justru dapat kita hayati dengan meluruh dan sekedar memerdekakan rasa tanpa perlu memaknai selain hanya mensyukuri dan mencintai. Dengan kata lain mengikhlaskan diri untuk menyetubuhi esensi hakikat dari eksistensi diri di semesta ciptaan Illahi.
Kembali ke sekitaran bulan lalu, saya bersama seorang sahabat, Kang Ustadz Fikri Atfi, generasi muda Nahdliyin dari Bumi Ayu, pergi menjelajahi kaki gunung Patuha sampai ke daerah gunung Ratu, hulu kali Cisokan. Menurut hikayat di sanalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, alias Ameng Layaran dipulasarakan.
Catatan perjalanan beliau yang jauh melampaui jaman dan mendahului para travel vlogger yang kini wara wiri di You Tube dan Instagram tersimpan di perpustakaan Bodley atau Bodleian Library Universitas Oxford (menjadi koleksi Oxford sejak 1627). Naskah catatan perjalanan Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.
Di dalamnya terdapat begitu banyak romansa dan catatan kisah pengamatan manusia yg memandang dunia dengan bersahaja, meski tidak sederhana. Ada kisah cinta yang berakhir entah bagaimana. Intinya Sang Santri Kelana Bujangga Manik enggan menerima pinangan seorang putri cantik dari daerah Pakancilan yang bernama Putri Ajung Larang yg meminang melalui dayangnya, Jompong Larang. Bukan berarti Bujangga Manik termasuk golongan yang kata sahabat saya, Ustadz Duddy Fachrudin sebagai dholuman jahula alias manusia bodoh yang ngeyel ga ngotak tapi ngokol. Sampe dibuatin lagu loh oleh Ada Band, Manusia Bodoh. Melainkan karena Bujangga Manik enggan kesrimpet indahnya selendang dunia yang hanya akan membuatnya terlena dalam buaian kelembutan nan molek penuh pesona dari semua hal yang bersifat maya dan sementara.
Maka dalam perjalanannya melepas tahta, juga harta dan kehangatan peluk wanita, Bujangga Manik yang rajin mencatat secara detail setiap lekuk morfologi dari bentang rupa alam yang dilaluinya, lebih mencari titik damai dalam kesetimbangan bathinnya.
Nyiar lemah pamasaran/ nyiar tasik panghanyutan/ pigeusaneun aing paéh/ pigeusaneun nunda raga.”
Ia berkata bahwa perjalanannya adalah sebuah pencarian akan tanah tempat ia akan menyirna raga dan sebuah telaga tempat dimana kesejukan dan kedamaian akan menghanyutkannya dalam keabadian.
Bujangga Manik mencatat kurang lebih 450 lokasi di Jawa dan Bali di sepanjang pengembaraannya. Dan lokasi-lokasi itu masih bisa kita jumpai sampai hari ini. Kali Pamali Comal, Pamalang, sampai daerah2 di Wetan dijelaskannya secara terperinci. Bahkan kisah pelayarannya bersama armada Malaka berjurumudi India/Malabar pun dituliskannya dengan narasi bertutur yg mudah dicerna. Dari catatan itu kita tahu bahwa Bujangga Manik hidup di sekitar awal 1500 an.
Bahkan penolakannya akan keterikatan sementara meski itu atas nama cinta pun dituturkannya dengan santun dan bermartabat.
Maka ketika sang Ibunda membujuk rayu dengan berkata,
Anaking, haja lancanan/ karunya ku na tohaan/ sugan sia hamo nyaho/ tohaan geulis warangan/ rampés rua rampés ruah/ teher geulis undahagi/ hapitan karawaléa/ buuk ragi hideung teuleum/ ceta hamo diajaran/ na geulis bawa ngajadi/ na éndah sabot ti pangpang/ hanteu papahianana.
yang kurang lebih menggambarkan betapa moleknya putri Ajung Larang, maka Bujangga Manik justru menasehati ibunya, bahwa pemujaan yg berlebihan kepada makhluk itu adalah suatu kesalahan.
Lalu pada akhirnya setelah puas menjelajahi segenap pulau Jawa dan Bali, Bujangga Manik sang Ameng Layaran memutuskan untuk tinggal selamanya di kaki gunung Patuha, sebagaima tergambar dalam tulisannya berikut:
Sadiri aing ti inya/ sacunduk ka Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Caréngcang/ éta huluna Cisokan/ landeuhan bukit Patuha/ heuleut-heuleut Lingga Payung/ nu awas ka Kreti Haji/ Momogana teka waya/ neumu lemah kabuyutan/ na lemah ngalingga manik/ teherna dek sri mangliput/ ser manggung ngalingga payung.
Demikianlah sedikit hikmah pagi ini terkait tentang perjalanan manusia. Dinamika hidup tentu akan membawa kita memasuki banyak fase drama beromantika, tetapi pada akhirnya kerinduan pada yang Abadi jualah yg membawa kita pulang untuk bersiap menjelang. 🙏🏼