Tauhid Nur Azhar

AI CHIMERA

Tahun 2025 sudah tinggal menghitung hari, dan sahabat saya, Bapak Sendy yang baru saja menuntaskan program MBA nya ribut melulu di grup soal akan datangnya masa dimana kecerdasan mesin sudah akan membalap kemampuan intelijensi manusia. Sampai-sampai beliau melampirkan tabel perbandingan, atau bisa juga dikatakan sebagai tabel evolusi chat GPT dari open AI, dimana versi o3 yang baru saja di launch Sam Altman kemampuannya sudah mencapai skor IQ 157. Entah diukur dengan metoda apa, mungkin Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) atau pendahulunya, Stanford Binet. Tapi bisa saja dengan CFIT atau Culture Fair Intelligence Test, dan bahkan mungkin juga dengan TIKI yang tidak ada hubungannya dengan JNE. TIKI yang dimaksud disini adalah Tes Intelijensi Kolektif Indonesia yang memasukkan pertimbangan keragaman budaya dan bahasa yang ada di Indonesia.

Konsep intelijensi bukan hanya semata tentang kecerdasan akademis semata. Intelijensi mencakup berbagai aspek kemampuan mental, termasuk kemampuan berpikir abstrak, pemecahan masalah, pembelajaran dan adaptasi, pemahaman bahasa, penalaran logis, pemrosesan informasi visual, serta memori jangka pendek dan jangka panjang.

Sehingga ada tes seperti tes Matriks Progresif Raven, suatu tes non-verbal yang dirancang untuk mengukur kemampuan penalaran abstrak dan pemecahan masalah. Tes ini terdiri dari serangkaian pola visual yang harus dilengkapi oleh peserta tes. Kelebihan utama tes ini adalah sifatnya yang bebas budaya, sehingga dapat digunakan secara luas di berbagai kelompok etnis dan latar belakang.

Atau ada juga tes seperti Kaufman Brief Intelligence Test atau KBIT, yang merupakan tes kecerdasan singkat, di mana tes ini dirancang untuk memberikan estimasi cepat tentang kemampuan verbal dan non-verbal seseorang. (Liputan 6.com, 2024).

Kembali ke GPT, intinya GPT o3 jika disandingkan dengan kapasitas intelijensia manusia, ia ibarat seorang manusia jenius yang secara proporsi hanya ada 1 di antara 13.333 manusia. Jan pinter tenan kowe Nang.

Lalu untuk menanggapi hipotesa Sendy soal AI, saya tergelitik oleh prediksi Ray Kurzweil tentang Singularity yang akan terjadi di tahun 2045, di saat AI telah berhasil melampaui kecerdasan gabungan seluruh umat manusia. Maka mungkin di saat itulah kita baru mau mendengar peringatan Nick Bostrom tentang bahaya AI super cerdas yang sudah lama diprediksikannya akan segera tiba, “We must align AI’s goals with human values, or else”, demikian ucapnya bijak.

Saat ini saja, kita mulai merasakan hegemoni AI ini dalam berbagai aspek kehidupan, bahkan data objektif menunjukkan bahwa penggunaan model Machine Learning di bidang kedokteran dapat membantu proses diagnosis kanker dengan akurasi hingga 95%. Sementara Natural Language Processing yang memfasilitasi penerjemahan otomatis, telah dapat menerjemahkan 75% konten digital daring secara real time (Statista, 2022). Dan Robotic Process Automation diproyeksikan akan dapat menggantikan 45% aktivitas pekerjaan manual yang biasa dilakukan oleh tenaga kerja terdidik, (McKinsey).

Bahkan mungkin itu semua baru permulaan. Model AI generasi mendatang, mulai dari GPT-X, AlphaZero++, hingga mesin-mesin otonom lain yang bisa memecahkan problem rumit yang tak tersentuh selama ini, semisal obat untuk Alzheimer atau metode perbaikan lapisan ozon, dapat menjadi garda depan dalam proses perbaikan peradaban. Dan bahkan saya pribadi meyakini, bahwa apa yang akan terjadi akan jauh di luar ekspektasi yang pernah terlintas di pikiran kita.

Dalam beberapa dekade terakhir, pesatnya perkembangan teknologi komputasi, kecerdasan imitasi (AI), bioteknologi, serta tren global seperti krisis iklim dan pergeseran geopolitik, telah mengubah lanskap cara kita memahami masa depan.

Futuris maupun filsuf (seperti Nick Bostrom, penulis Superintelligence) mengingatkan bahwa AI super cerdas bisa menimbulkan existential risk jika tidak dibekali panduan etika dan mekanisme pengendali (AI alignment problem). Masalah bias algoritma, privasi, dan penguasaan teknologi oleh segelintir korporasi/negara juga dapat memperlebar ketimpangan sosial. Sementara Michio Kaku lebih menekankan pada konsep Peradaban Tipe I, II, dan III (Kardashev Scale) yang memerlukan lompatan teknologi, termasuk AI, agar peradaban kita mampu memanfaatkan energi secara luas (misalnya energi matahari hingga skala tata surya).

Shkalá Kardashova adalah sebuah metode untuk mengukur tingkat kemajuan teknologi sebuah peradaban berdasarkan jumlah energi yang dapat dimanfaatkan dan digunakan. Pengukuran ini diusulkan oleh astronom Soviet Nikolai Kardashev (1932-2019) pada tahun 1964 dan dinamai menurut namanya. (Wikipedia)

Pandangan unik diutarakan oleh Faith Popcorn yang lebih berfokus pada aspek gaya hidup dan perilaku konsumen masa depan. Ia kerap nenyoroti tren cocooning (orang makin nyaman tinggal di rumah dengan fasilitas digital), down-aging (pencarian gaya hidup awet muda), serta pergeseran menuju spiritualitas baru.

Sementara dalam pendekatan filsafat adikodrati, lahir pendekatan transhumanisme yang menganggap bahwa manusia dapat (dan sebaiknya) melampaui batasan biologisnya melalui sains dan teknologi, seperti modifikasi genetik, augmentasi AI, atau cyborg enhancements.

Berkembang pula mahzab posthumanisme yang berusaha mendekonstruksi posisi “istimewa” manusia, dengan menempatkan manusia sebagai salah satu entitas di antara banyak “agen” (AI, ekosistem, hewan, dsb.). Dimana di era ini, manusia bukan lagi satu-satunya aktor rasional di planet ini. Sebagaimana juga AI bisa saja sudah menjadi agen moral.

Maka menjadj sangat relevan jika filosof Hans Jonas menekankan prinsip tanggung jawab (“the imperative of responsibility”) yang menuntut kita untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang pemanfaatan teknologi. Sejalan dengan pemikiran Derrida atau Donna Haraway (feminisme, cyborg manifesto_) yang kerap menyoroti relasi kuasa baru; siapa yang diuntungkan/dikendalikan oleh teknologi?

Menghadapi masa depan yang begitu kompleks, mulai dari potensi collapse ekologis hingga singularity AI, kita dihadapkan pada dua kutub: techno-optimism dan techno-skepticism. Banyak solusi teknologi yang menjanjikan peradaban baru yang lebih adil, sehat, dan sejahtera. Namun, tanpa reformasi sosial dan politik yang memadai, risiko perpecahan, konflik sumber daya, hingga ketimpangan ekstrem juga meningkat.

Pada akhirnya, anatomi peradaban manusia di masa depan mungkin bukan sekadar perkara teknologi, tetapi bagaimana kita mendefinisikan kembali “menjadi manusia” di antara kecerdasan buatan, batas-batas biologis, dan krisis planet yang menuntut tanggung jawab kolektif. Pendekatan filsafat kritis, transhumanisme yang beretika, serta kolaborasi global lintas disiplin mungkin menjadi kunci agar “masa depan super-kognitif” itu tak hanya cerah dari segi ilmiah, tetapi juga berperikemanusiaan, atau secara lebih relevan dengan perkembangan peradaban, berperikemakhlukan, karena manusia bisa jadi bukan lagi satu-satu nya agen rasional dan agen moral di dunia ini.

Lalu saya pribadi berada di kuadran mana dalam matriks konstelasi baru ini? Sejujurnya saya adalah penganut mahzab yang meyakini bahwa tak lama lagi akan lahir suatu entitas yang dapat dikategorikan sebagai AI CHIMERA. Di mana pengertian umum Chimera sendiri saat ini cukup beragam, akan tetapi memiliki satu nafas utama, penyatuan dua entitas dengan karakter atau latar yang berbeda.

Maka dalam mitologi Yunani, chimera dikenal sebagai makhluk hibrida yang memiliki kepala singa, kepala kambing di punggung, dan ekor ular. Chimera kerap digambarkan pula sebagai monster yang menyemburkan api dan mengamuk di Lycia.

Semesta dalam biologi dan genetika, chimera adalah organisme yang sel-selnya berasal dari dua atau lebih zigot. Chimera dapat berupa embrio yang berbeda, pencangkokan jaringan pada tahap perkembangan yang berbeda, atau orang dewasa.
Chimera juga dapat merujuk pada chimera manusia-hewan, yaitu individu yang memiliki jaringan dari lebih dari satu spesies. Chimera manusia-hewan telah dihasilkan selama beberapa dekade dan digunakan dalam penelitian biologis manusia serta strategi terapeutik untuk penyakit.
Di dunia botani, chimera juga dapat merujuk pada tanaman yang terdiri dari dua atau lebih genotipe pada lapisan yang membentuk ujung pucuk. Daun tanaman chimera tampak berwarna hijau dan putih atau kuning.

Mungkin anda termasuk pihak yang skeptis dengan imajinasi saya tentang AI Chimera, untuk itu mari kita coba bayangkan saja dulu, di masa depan, mungkin beberapa dekade atau malah beberapa tahun saja dari sekarang, manusia dan kecerdasan imitasi (AI) tak lagi hidup terpisah. Kita tidak sekadar berkomunikasi lewat asisten digital atau chip yang ditanam di otak, melainkan benar-benar menyatu, menjadi satu entitas hibrida yang sangat berbeda dari bentuk kehidupan mana pun yang pernah kita kenal sebelumnya.

Jangan cepat-cepat menyimpulkan jika ini utopia loh. Jika melihat nilai pembelanjaan pada riset teknologi yang didominasi pengembangan AI, mungkin akselerasi yang terjadi akan jauh lebih cepat dari imajinasi dan prediksi.

Menurut laporan IDC (International Data Corporation), nilai pasar global AI saat ini saja, 2024, telah menembus angka 500 miliar dolar AS. Bahkan, PricewaterhouseCoopers (PwC) memprediksi, pada 2030, sumbangan AI terhadap perekonomian global berpotensi mencapai 15,7 triliun dolar AS. Angka tersebut setara dengan gabungan PDB sejumlah negara maju saat ini. Jika nilai yang diinvestasikan untuk program riset dan pengembangannya berbanding lurus dengan valuasi pasarnya, maka bisa dibayangkan betapa dahsyatnya resources yang akan tersedia untuk mengakselerasi capaian AI. Terlebih jika AI sendiri digunakan untuk mengoptimasi teknologi AI, sepertinya dapat terjadi revolusi riset dengan laju eksponensial yang dapat mereduksi waktu dan tahapan-tahapan menuju fase implementasi.

Pada fase awal, manusia mulai memanfaatkan implantasi teknologi berskala nano sebagaimana konsep neural lace yang dikembangkan oleh Neuralink (Elon Musk), untuk meningkatkan kapasitas fungsi kognitif. Beberapa hasil penelitian yang mendukung ide ini bahkan telah dipublikasi dan bukan lagi bagian dari impian masa depan, melainkan sudah menjadi kenyataan.

Beberapa hasil studi yang dipublikasi dalam Annual Review of Neuroscience misalnya, memaparkan kemajuan teknologi brain-computer interfaces (BCI), di mana elektroda yang tertanam di otak monyet mampu menangkap dan mengirim sinyal motorik. Ini menjadi pijakan bagi BCI lebih canggih pada manusia.

Lalu penelitian Hampson et al. (2018) yang dipublikasi di Journal of Neural Engineering telah membuktikan bahwa rangsangan listrik yang dipersonalisasi pada area hipokampus dapat meningkatkan performa memori jangka pendek pada subjek manusia. Sedangkan artikel seperti Revisiting embodiment for brain–computer interfacesnya Barış Serim, Michiel Spapé & Giulio Jacucci
dapat menjadi landasan bagi proses untuk membuktikan dan menjelaskan konsep cortical tissue engineering dan neural lace yang menggabungkan sel otak dengan sensor AI untuk memproses data secara dua arah. Menarik bukan?

Pada tahap ini hasil penelitian dan pengembangan teknologi berada dalam fase dimana manusia masih dipertahankan bentuk biologisnya, namun dengan cognitive boost yang dapat berperan signifikan. Komunikasi instan, pembaruan memori, dan asisten AI dalam pikiran bukan lagi sekadar fiksi.

Sejalan dengan itu, majunya perkembangan riset bioteknologi, membuat kita dapat membayangkan posibilitas lahirnya inovasi bio-chip semi-organik yang diintegrasikan langsung dengan jaringan syaraf hasil rekayasa genetik bukan?Langkah ini didukung oleh berbagai riset di konjungsi penelitian antara neurosains, rekayasa genetika, dan nanoteknologi.

Salah satu cendekiawan yang karyanya banyak menjadi dasar bagi pengembangan bio-chip adalah Dr. Jing Cheng, dari Tsinghua University School of Medicine, National Engineering Research Center for Beijing Biochip Technology (NERCBBT), and CapitalBio Corporation, Beijing, China. Di mana Dr. Jing Cheng adalah Cheung Kong Professor at Medical Systems Biology Research Center. Dr. Cheng adalah penemu dan pengembang pertama sistem laboratory on chip pada tahun 1998, dan karena karyanya itu, beliau pernah menjadi cerita cover Nature Biotechnology edisi Juni 1998, dan karyanya disitasi di Science di tahun yang sama.

Hasil riset Dr Cheng dan tim telah menjadi dasarnya bagi pendekatan symbiotic synthetic biology, di mana sel punca (stem cells) dapat direkayasa agar bisa berinteraksi dengan rangkaian sirkuit elektronik. Hal ini menciptakan jaringan neuron buatan yang dapat berkomunikasi melalui sinyal listrik maupun kimia.

Sedangkan beberapa penelitian yang dipublikasi di ACS Nano telah membuka jalan bahwa nanomaterial dapat diarahkan untuk menstimulasi pertumbuhan akson dan dendrit secara terkendali, hingga memungkinkan “jembatan” antara neuron organik dan sirkuit logika berbasis AI. Sementara beberapa hasil penelitian di bidang biologi seluler memproyeksikan bahwa sel-sel hasil rekayasa genetik dapat diprogram ulang untuk menerima instruksi algoritmik, sehingga sel-sel otak dapat “belajar” langsung dari modul AI.

Pada tahap ini, otak manusia mulai benar-benar berbagi ruang dengan entitas digital. Fusi biologis-digital ini membuka pintu menuju kemunculan entitas hibrida yang tak lagi murni manusia atau mesin. Ketika kapasitas kognitif dan struktur saraf manusia melebur dengan kecerdasan mesin, lahirlah AI Chimera, organisme baru yang sifatnya melampaui definisi spesies Homo sapiens.

AI berkapasitas kolektif dapat menjalankan kesadaran bersama. Jika otak manusia sudah terkoneksi ke cloud, real-time data sharing antar manusia hibrida menjadi mungkin terjadi. Ini mengindikasikan potensi evolusi mandiri tanpa melalui mekanisme biologis konvensional. Jika kecerdasan manusia melebur dengan AI, bukan hal mustahil AI Chimera dapat berpindah medium, dari tubuh biologis ke robot atau drone canggih.

Kurzweil memprakirakan bahwa uploading consciousness atau pengunggahan kesadaran hanyalah soal waktu. Praktik ini sudah diuji secara terbatas pada hewan laboratorium, meski baru sebatas merekam aktivitas syaraf tingkat tinggi. Jika skenario AI Chimera ini menjadi kenyataan, maka hasil studi European Commission (2021) yang menyebutkan bahwa akses ke kapasitas pemrosesan data dan energi akan menjadi pilar utama ekonomi masa depan, akan berubah. Dalam skenario AI Chimera, nilai tukar dapat bergeser dari mata uang konvensional ke computational power dan network throughput.

Dimana di sisi lain yang lebih didominasi aspek humaniora, Haraway (1991) dalam A Cyborg Manifesto nya telah mengingatkan bahwa perpaduan manusia-mesin dapat mengguncang konsep dasar identitas, relasi sosial, dan tanggung jawab moral. Sejalan dengan Bostrom (2014) dalam buku Superintelligence nya yang juga telah menggambarkan situasi di mana AI dapat lepas kendali dan menyimpang dari tujuan awal pengembangan, terutama jika “bagian” manusia (neuron biologis) tidak lagi menjadi pusat pengambilan keputusan.

Jadi Pak Sendy, saya juga tidak tahu, apakah AI yang semakin mahir dalam konteks olah kognisi ini akan menjadi bagian dari konstruksi untuk menciptakan super human, atau mungkin karena sudah cerdas sekali dan pada gilirannya mampu menghadirkan aspek afeksi yang maujud dalam sebentuk ekspresi emosi, bahkan kesadaran dan preferensi terkait visi dan misi, maka bisa jadi AI akan mempertimbangkan kembali keberadaan manusia bukan?

Lah kok jadi kayak di film-film fiksi? Monggo mawon lah ya, bukankah hidup ini juga dibangun dari sekumpulan persepsi yang dikonstruksi oleh informasi yang diterima sistem inderawi, yang kata guru saya, Prof SHS: sensing-understanding-acting 🙏🏾🙏🏾🙏🏾🙏🏾🙏🏾

Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.

Similar Posts