Tauhid Nur Azhar

Serba Serbi Asam Urat

Pagi ini ada data yang disajikan Kompas edisi cetak di halaman utama. Judul artikel di mana data tersebut berada, seram juga: Pasien Jantung Semakin Muda. Data yang tersaji cukup menarik untuk dibaca karena ditampilkan melalui sebuah infografis kecil dengan gambaran sebuah monitor dan stetoskop, dimana di monitor tergambar grafik batang yang merepresentasikan data pertumbuhan jumlah pasien dengan gangguan kardiovaskuler alias penyakit jantung di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL) mulai dari 2020 sampai dengan 2023.

Prosentasenya yang agak mengejutkan, 65,7% untuk kelompok usia 0-45 tahun, dan 52,1% untuk kelompok usia 46 tahun ke atas. Tentu masih perlu ditelusuri lebih lanjut terkait dengan angka dan persentase tersebut, mengingat banyak faktor yang terkait dan mempengaruhinya.

Termasuk tentu saja perubahan gaya hidup, daya dukung lingkungan, ataupun ekspose dari media informasi yang semakin intens. Dengan kata lain, saat ini banyak penyakit lebih teridentifikasi karena memang penetrasi sistem layanan kesehatan makin terdistribusi secara merata, atau berbagai informasi tentang kondisi kesehatan semakin masif diberitakan.

Terlepas dari itu semua, ada banyak PR bagi kita bersama. Salah satu faktor resiko yang cukup berpengaruh dalam terjadinya berbagai gangguan patologis di sistem kardiovaskuler antara lain adalah adanya gangguan atau perubahan pada sistem metabolisme.

Uniknya, fenomena yang terjadi di masyarakat dan dapat dilihat secara empiris adalah mulai seringnya muncul keluhan akibat penumpukan asam urat yang menimbulkan kondisi patologis gout atau artritis gout. Di mana kerap rasa nyeri sendi didiagnosis secara mandiri (self diagnosis) oleh penderita, dengan mengacu kepada pengalaman, atau berdasar informasi yang didapatkan dari mesin peramban seperti Google.

Tak berhenti sampai di tahap itu saja, banyak di antara kita melanjutkannya dengan self therapy. Mencari dan membeli obat-obatan sendiri, baik melalui jalur pembelian konvensional, maupun membeli secara online. Walhasil bisa saja terjadi proses pengobatan yang tidak rasional dan justru dapat membahayakan yang bersangkutan.

Asam urat sendiri merupakan produk akhir dari metabolisme purin pada manusia. Purin dapat berasal dari dua sumber utama: intrinsik dan ekstrinsik. Sumber intrinsik meliputi degradasi nukleotida purin endogen yang terjadi dalam tubuh sebagai hasil dari pemecahan DNA dan RNA selama pembaruan sel.

Sementara purin eksogen berasal dari asupan makanan, terutama yang kaya purin seperti daging merah, ikan, dan minuman beralkohol. Purin eksogen dikonversi menjadi asam urat melalui jalur metabolisme purin yang kompleks di hati.

Keseimbangan antara sintesis dan ekskresi asam urat sangat penting untuk menjaga kadar yang sehat dalam plasma. Karena pada hakikatnya, dengan kadar dalam batas normal, asam urat memiliki fungsi penting sebagai anti oksidan alami di dalam tubuh manusia. Juga untuk mengonversi purin agar dapat diekskresikan melalui ginjal.

Metabolisme asam urat melibatkan serangkaian enzim yang mengubah purin menjadi asam urat. Proses ini dimulai dengan degradasi purin (adenin dan guanin) menjadi hipoksantin, yang kemudian diubah menjadi xantin melalui aksi enzim xantin oksidase. Tahap akhir adalah konversi xantin menjadi asam urat, juga oleh xantin oksidase. Enzim ini memainkan peran kunci dalam produksi asam urat dan menjadi target terapi farmakologis, seperti allopurinol, yang menghambat xantin oksidase untuk mengurangi produksi asam urat.

Ekskresi asam urat sebagian besar terjadi melalui ginjal (sekitar 70%), sedangkan sisanya diekskresikan melalui usus. Gangguan dalam salah satu dari kedua jalur ini dapat menyebabkan akumulasi asam urat dalam plasma, yang dikenal sebagai hiperurisemia. Ginjal berperan penting dalam homeostasis asam urat, dengan mekanisme transportasi yang rumit yang melibatkan reabsorpsi dan sekresi di tubulus proksimal.

Peningkatan kadar asam urat dalam darah, atau hiperurisemia, berpotensi menyebabkan kondisi patologis, yang dikenal sebagai gout atau artritis gout. Dimana gout terjadi ketika kristal monosodium urat mengendap di persendian, menyebabkan inflamasi akut yang sangat menyakitkan.

Selain gout, hiperurisemia juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi untuk kondisi metabolik lainnya, seperti hipertensi, penyakit ginjal kronis, dan penyakit kardiovaskular.

Mekanisme yang menghubungkan hiperurisemia dengan penyakit kardiometabolik merupakan topik riset yang saat ini masih banyak dilakukan di berbagai pusat pendidikan kesehatan. Salah satu hipotesis terkait, adalah bahwa asam urat meningkatkan stres oksidatif dan inflamasi pada endotel pembuluh darah, sehingga memperburuk disfungsi endotel yang berkontribusi terhadap perkembangan hipertensi dan aterosklerosis.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hiperurisemia tidak hanya memengaruhi persendian, tetapi juga berperan dalam sindrom metabolik. Studi epidemiologis menemukan bahwa peningkatan kadar asam urat berkorelasi dengan resistensi insulin, obesitas, dan dislipidemia.

Dalam konteks resistensi insulin, asam urat diduga mengganggu jalur sinyal insulin di adiposit dan hepatosit, yang berkontribusi terhadap perkembangan diabetes tipe 2 (DM tipe 2).

Intervensi terapi untuk menurunkan kadar asam urat, seperti inhibitor xantin oksidase (allopurinol dan febuxostat), telah terbukti efektif dalam mengurangi kejadian serangan gout. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi efek jangka panjang dari menurunkan kadar asam urat pada risiko penyakit kardiovaskular dan metabolik.

Selain itu, ada banyak penelitian yang berfokus pada terapi berbasis gen, seperti manipulasi urikase, enzim yang tidak aktif pada manusia tetapi berperan dalam degradasi asam urat pada spesies lain.

Saat ini seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang antara lain menghasilkan beberapa kondisi seperti kurang gerak, konsumsi nutrisi berlebih, dan tingkat stress yang meningkat seiring dengan kualitas tidur atau istirahat yang semakin berkurang, terdapat kecenderungan masalah-masalah kesehatan bersumber dari aspek metabolisme juga mengalami eskalasi peningkatan.

Gaya hidup yang dipengaruhi fenomena doom spending atau stress spending juga terjadi di ranah kuliner. Dimana konsumsi berbagai asupan kuliner dengan proporsi kandungan gizi tidak seimbang, tanpa disadari sudah menjadi bagian dari budaya yang dipraktikkan sehari-hari. Makan enak itu boleh dan perlu, tapi kendali diri juga menjadi bagian penting dari konsep mensyukuri nikmat sehat secara berkesinambungan bukan?

Saat ini ada fenomena dimana asupan karbohidrat, lemak, gula, dan garam kerap sudah berlebihan dan menjadi kebiasaan. Padahal ada hubungan antara konsumsi karbohidrat, kadar trigliserida, dan asam urat yang melibatkan proses metabolisme yang saling mempengaruhi, terutama dalam konteks sindrom metabolik.

Karbohidrat, terutama yang memiliki indeks glikemik tinggi (seperti gula sederhana, roti putih, dan nasi), secara langsung memengaruhi metabolisme lipid/lemak. Ketika karbohidrat dicerna dan diubah menjadi glukosa, kadar insulin meningkat untuk mengatur kadar gula darah. Peningkatan kadar insulin mendorong produksi lemak dalam hati melalui proses yang dikenal sebagai *lipogenesis de novo*, di mana kelebihan karbohidrat dikonversi menjadi asam lemak dan trigliserida.

Trigliserida kemudian disimpan dalam jaringan adiposa atau dilepaskan ke dalam aliran darah. Pada individu yang mengonsumsi karbohidrat berlebih secara kronis, terutama fruktosa, kadar trigliserida darah cenderung meningkat, yang berhubungan dengan risiko lebih tinggi terhadap obesitas, resistensi insulin, dan penyakit kardiovaskular.

Karbohidrat tertentu, terutama fruktosa, memiliki hubungan langsung dengan peningkatan kadar asam urat. Metabolisme fruktosa dalam hati menyebabkan peningkatan produksi adenosin trifosfat (ATP) menjadi adenosin monofosfat (AMP), yang pada gilirannya mempercepat jalur degradasi purin, sehingga meningkatkan produksi asam urat.

Selain itu, fruktosa juga meningkatkan reabsorpsi asam urat di ginjal, sehingga menurunkan ekskresi asam urat melalui urin. Oleh karena itu, konsumsi karbohidrat tinggi, terutama fruktosa, dapat menyebabkan hiperurisemia, yaitu peningkatan kadar asam urat dalam darah, yang berpotensi memicu penyakit gout.

Hubungan antara trigliserida dan asam urat juga dapat dilihat dalam konteks resistensi insulin dan sindrom metabolik. Individu dengan kadar trigliserida yang tinggi sering kali mengalami resistensi insulin, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produksi asam urat. Resistensi insulin menurunkan fungsi ginjal dalam membuang asam urat, sehingga memperburuk hiperurisemia.

Selain itu, hiperurisemia sering kali muncul bersamaan dengan dislipidemia (tingginya kadar trigliserida dan kolesterol LDL), hipertensi, dan obesitas, yang melibatkan hampir semua komponen dari sindrom metabolik.

Proses inflamasi dan stres oksidatif yang terkait dengan kadar trigliserida yang tinggi dan resistensi insulin dapat memperberat dampak akumulasi asam urat, dan meningkatkan resiko terjadinya gout dan komplikasi kardiovaskular.

Jadi bagi yang hasil medical check up atau MCU nya mendapat bintang di bagian kadar asam urat, trigliserida, dan kolesterol total, perlu lebih giat bergerak dan mengupayakan peningkatan kebugaran tubuh, disertai dengan lebih bijak dalam mengendalikan asupan konsumsi (idealnya sesuai kebutuhan), minum air putih yang memadai, istirahat cukup dan berkualitas, hindari stress berlebihan, dan jangan segan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan ya. 🙏🏾

Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.

Similar Posts