Tauhid Nur Azhar

Semar, Pamomong Wangsa Nusantara

Setiap ada kesempatan bertugas di Solo, saya selalu memilih penginapan sederhana (guest house) di dekat lapangan kota Barat dengan alasan yang juga sederhana. Dekat dengan taman budaya Sriwedari, karena sebisa mungkin saya akan menyempatkan diri untuk melakukan ziarah budaya dengan mengunjungi dan menonton pentas wayang orang yang dimainkan di sana.

Wayang orang Sriwedari sendiri memiliki sejarah panjang yang sudah dimulai sejak abad ke 19 dan biasa berpentas rutin di lingkungan Puro Mangkunegaran. Hingga pada 1896 sepeninggal Mangkunegoro V yang wafat, kelompok wayang orang Sriwedari kekurangan dukungan finansial hingga harus berpentas keliling kampung.

Untunglah pada akhirnya mereka ditampung di Bon Rojo atau saat ini dikenal sebagai Taman Sriwedari, atas inisiatif Sunan Pakubuwono X. Bahkan pada tahun 1928-1930 kelompok wayang orang ini dibangunkan gedung pertunjukkan dengan kapasitas penonton 500 orang. Di tahun 1951 kapasitas gedung pertunjukkan ditingkatkan untuk dapat menampung 1000 penonton.

Sebagai suatu perkumpulan, kelompok wayang orang Sriwedari sendiri mulai memiliki organisasi resmi pada tahun 1911, hanya saja untuk kegiatan komersialisasi hiburan baru dimulai pada tahun 1922. Perkembangan Wayang Orang Sriwedari di tengah masyarakat semakin populer dengan munculnya siaran wayang di Solosche Radio Vereeniging.

Saat ini wayang orang Sriwedari sudah mulai bertransformasi dan memanfaatkan berbagau perkembangan teknologi, mulai dari tayangan sinopsis dan terjemahan narasi di layar samping panggung dengan bantuan LCD Projector, sampai pemanfaatan media sosial untuk promosi program dan jadwal pementasan. Kini wayang orang Sriwedari aktif di Instagram. Generasi Z dan milenial pun mulai berdatangan menghadiri pementasannya karena kepo, atau FOMO ya?

Dari jadwal yang tayang di IG saya tahu bahwa pada tanggal 23 Oktober tahun ini akan ada lakon Semar Tigas Kuncung yang akan dipentaskan. Dari informasi itu saya mulai mencari-cari info tiket KA Lodaya relasi Bandung-Solo PP di Access by KAI dong. Plus buka aplikasi Red Doorz untuk pesan guest house kesayangan. Mengapa? Karena Semar begitu istimewa.

Bagi saya, apapun lakon wayangnya, atau model wayang dari daerah mana saja, kehadiran Semar, sang lurah Karang Tumaritis selalu yang saya tunggu-tunggu. Adegan goro-goro di wayang orang ataupun kulit, termasuk yang sarat dengan edutainment sebagaimana kerap dipertontonkan almarhum Ki Enthus Susmono, dalang kondang yang juga Bupati Tegal, yang amat piawai memainkan Slenteng dan Lupit dengan kecerdikan naratif yang jenius, sampai tek tok-an Ki Seno almarhum dan “kecanggihan” wayang Golek Giri Raharja Kang Asep Sunandar Sunarya almarhum yang bisa “muntah-muntah”, selalu saya pelototi dengan penuh perhatian.

Tapi kehadiran Semar di adegan goro-goro WO Sriwedari memang istimewa sekali. Pelit bicara, dan kerap dijadikan bulan-bulanan anaknya, sosok Semar justru tampak bijaksana, sekaligus sangat merakyat dan bersahaja.

Tapi dalam konteks yang lebih esoterik Semar adalah tokoh dengan kisah latar yang sedemikian istimewa khususnya di ranah budaya tanah Jawa. Siapakah dia gerangan?

Janggan Smarasanta, Ki Lurah Badranaya; Ki Lurah Nayantaka, Tualen, Bathara Sang Hyang Ismaya, Batara Iswara, Jurudyah Punta Prasanta, dan beberapa julukan lainnya melekat pada sosok yang dalam tradisi wayang Jawa dan Sunda dikenal sebagai Semar.

Tokoh yang asli dilahirkan dari rahim jagat pewayangan Nusantara, dan tidak terdapat di tradisi wayang manapun kecuali di Indonesia. Kehadirannya seolah menjadi personifikasi jembatan penghubung pontifik antara jagat kadewatan yang bersifat sakral dengan dunia manusia yang bersifat profan.

Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra era Majapahit yang berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1437.

Sumber literasi lain tentang tokoh Semar, antara lain terdapat di beberapa naskah kuno tanah Jawa. Misal dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putri Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya.

Telur tersebut kemudian menetas dan menjadi 3 bagian, kuning telur, putih telur, dan cangkang telur. Dimana bagian cangkang menjadi Antaga, putih telur menjadi Ismaya, dan kuning telur menjadi Manikmaya.

Karena Antaga dan Ismaya berselisih dalam hal suksesi, mereka dihukum untuk turun ke bumi dan kehilangan _privilege_ sebagai putra dewa. Antaga kemudian dikenal sebagai Togog yang bermitra dengan Bilung Sarawita, dan Ismaya dikenal sebagai Semar, Lurah Badranaya yang didampingi oleh ketiga anaknya: Nala Gareng, Petruk, dan Bagong.

Sedangkan dalam naskah kuna Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan yang bernama Sang Hyang Batara Nurrasa memiliki dua orang putra. Putra pertama bernama Sang Hyang Batara Tunggal dan saudaranya adalah Sang Hyang Batara Wenang/ Sang Hyang Asip Prono atau Sang Hyang Asip Rono.

Sang Hyang Betara Wenang kemudian menjadi raja dewa di Kahyangan, dimana kelak ia akan mewariskan tahtanya ke Betara Guru putranya. Sementara Sang Hyang Batara Tunggal turun ke bumi dan menjadi pamong atau pengasuh ummat manusia. Kelak ia dikenal sebagai Semar.

Tapi tokoh kharismatik tanah Jawa ini juga punya sumber genealogi yang cukup beragam, karena ada naskah lain yang mengisahkan tentang asal-usulnya dalam versi berbeda, meski ada titik-titik singgung yang sama pada bidang-bidang yang bersifat krusial.

Misal dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sang Hyang Tunggal adalah anak dari Sang Hyang Wenang. Sang HyangTunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti atau Batari Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sang Hyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria.

Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru.

Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuhan memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumayasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya.

Tapi ada yang unik, asal-usul genealogi Semar dari beberapa naskah itu memiliki beberapa persamaan seperti hadirnya dewi bangsa kepiting yang bernama Dewi Rekatawati atau Dewi Rakti anak Sang Hyang Yuyut, jin kepiting. Artinya kepiting punya arti penting sebagai simbol tertentu yang terkait dengan asal muasal alam semesta.

Dalam pendekatan astronomi, memang dikenal adanya keberadaan nebula kepiting yang berjarak sekitar 6500 tahun cahaya dari bumi, dan merupakan bagian dari konstelasi Taurus. Pengamatan pada nebula Kepiting dilakukan dengan menggunakan teleskop James Webb dengan fasilitas MIRI dan NIRCam nya.

Menurut hasil pengamatan NASA, nebula Kepiting merupakan hasil dari supernova dari kematian bintang masif akibat intinya runtuh. Ledakan supernova itu sendiri terlihat di Bumi pada tahun 1054 M dan cukup terang untuk dilihat pada siang hari. Sisa yang jauh lebih redup yang diamati saat ini adalah cangkang gas dan debu yang mengembang, dan angin yang keluar yang ditenagai oleh pulsar , bintang neutron yang berputar cepat dan sangat termagnetisasi.

Tapi apakah memang ada hubungan antara Dewi Rekatawati dan Nebula Kepiting? Wallahualam bissawab, yang jelas kita dapat belajar bahwa banyak fenomena di alam semesta ini yang dapat menjadi media belajar bagi kita semua, wa bil khusus dalam konteks mencari esensi eksistensi dan memberi makna dalam proses perjalanannya.

Mari kita kembali pada bahasan tentang topik Semar lagi ya. Pada wayang golek tokoh Semar digambarkan berkulit hitam, wajahnya putih, memiliki rambut (kuncung) yang berjumlah 99 helai, jari tangannya mengepal kecuali telunjuknya yang keluar mengacung (seperti saat tasyahud dalam sholat). Bertubuh tambun berkulit hitam yang membumi dan menunjukkan sifat pekerja keras, Semar dianggap menguasi dan mumpuni dalam ilmu Saepi Geni (api), Saepi Bayu (angin), Saepi Banyu (air) dan Bumi (tanah). (Permana FE, Literat Republika, 2022)

Semar seolah hadir sebagai simbol antropologi yang merepresentasikan nilai budaya yang diyakini dan merupakan akumulasi dari gagasan komunal suatu populasi yang berada di lokus atau habitat dengan ekosistem khas yang memerlukan metoda pemersatu yang sekaligus menjadi pemandu virtual dalam mengolah kebijaksanaan dan mengelola aneka persoalan terkait dengan dinamika realitas yang dihadapi dalam dimensi ruang dan waktu yang sama.

Mungkin agak mendekati beberapa hipotesa tentang teori konspirasi dan mengapa kita atau sekelompok masyarakat mudah menerima teori konspirasi, dalam Douglas dkk (2019) yang dikutip dari Gilang (2022), sekurangnya ada 3 motif terkait mudah dipercayanya suatu kondisi yang dianggap konspirasi, yaitu motif epistemik, motif eksistensial, dan motif sosial.

Motif epistemik adalah motif yang berhubungan dengan kognitif seseorang. Maksudnya, seseorang mempercayai teori konspirasi agar bisa mendapatkan jawaban terhadap situasi yang tidak pasti, melengkapi informasi yang terbatas, dan mengurangi kebingungan yang dirasakan.

Sedangkan motif eksistensial berhubungan dengan kebutuhan untuk mendapatkan rasa aman dalam sebuah lingkungan serta keinginan untuk bisa mengendalikan situasi dalam sebuah lingkungan.

Saat seseorang atau kelompok tidak mempunyai kendali terhadap sesuatu, mereka cenderung mempercayai teori konspirasi.

Lalu motif yang ketiga adalah motif sosial yang berhubungan dengan keinginan untuk menjaga citra baik. Seseorang atau sebuah kelompok yang diasingkan dan serba kekurangan cenderung menjadikan teori konspirasi sebagai alasan untuk mempertahankan citra baik yang mereka miliki.

Kemudian, Wanodya (2018) menjelaskan tiga faktor lain yang membuat orang-orang mempercayai teori konspirasi, yaitu faktor hyper-logical, anxiety relief, dan western phobia.

Hyper-logical merupakan perilaku yang sudah diperhitungkan dengan matang dari tindakan yang akan dilakukan. Dengan begitu, tujuan, aksi, dan efek dapat saling terhubung dengan baik tanpa memiliki celah. Orang yang mempunyai pola pikir ini tidak mempunyai tempat untuk hal-hal yang tidak bisa diprediksi. Bagi mereka, tidak ada yang namanya kebetulan dan semua hal berjalan sesuai dengan rencana orang/kelompok/organisasi jahat.

Sedangkan dalam pendekatan anxiety relief (penawar kegelisahan) konspirasi dianggap berhubungan erat dengan jabatan, posisi, dan juga kepentingan tertentu. Dengan begitu, akan ada pihak yang dianggap membahayakan maupun menghalangi konspirator mencapai tujuannya. Akibatnya, konspirasi dianggap sebagai cara untuk menghilangkan jejak si konspirator.

Westernphobia biasanya terjadi di negara-negara eks daerah koloni yang kerap beranggapan bahwa superioritas negara “barat” terlibat dalam berbagai kejadian yang menimpa daerah atau wilayahnya.

Bahasan di atas terkait dengan teori dan motif konspirasi bukanlah suatu upaya untuk mendiskreditkan arti penting kehadiran tokoh kultural dan spiritual seperti Semar. Melainkan lebih sebagai suatu piranti yang berfungsi sebagai perancah konstruksi berpikir tentang lahirnya suatu kebutuhan terhadap suatu konsep harapan yang “membumi” dan dapat menjadi anchor atau jangkar budaya yang mampu menjadi navigasi di tengah samudera kehidupan yang penuh dengan gejolak kepentingan dalam berbagai bentuk relasi interkaksi yang diwarnai transaksi kuasa kendali.

Pentingnya kehadiran simbol perekat harapan dan acuan terkait pengejawantahan nilai-nilai kehidupan mungkin dapat dikategorikan sebagai bagian dari konspirasi semesta yang telah menghadirkan mesin persepsi di benak kita. Di mana mesin dengan teknologi kognisi dan emosi atau afeksi itu membuat kita selalu mengonstruksi informasi menjadi pengetahuan yang diyakini dan menentukan sikap serta keputusan yang dijalani.

Konsekuensinya adalah terciptanya model interaksi karena kognisi pada gilirannya akan mengembangkan komunikasi dan literasi sebagai suatu upaya untuk mendiseminasi persepsi melalui mekanisme proyeksi.

Maka keberadaan tokoh Semar yang secara fisik mewakili segenap simbol semiotik terkait nilai-nilai komunal yang terakumulasi serta disepakati di bawah sadar sebagai nilai inti yang dilahirkan secara aklamasi dan konsensus adalah bagian dari kearifan bawah sadar yang sudah sepatutnya diberi ruang, karena merupakan representasi dari kecerdasan dan kewaskitaan yang merupakan hasil integrasi puncak dari capaian super kognisi dan afeksi di dimensi sadar yang sarat dengan berbagai informasi.

Maka kalau saya pribadi ditanya, apakah ada konspirasi yang baik? Saya akan menjawab : tentu ada. Salah satu contoh kongkretnya adalah kehadiran tokoh Semar. Sebuah upaya cerdas nan bijaksana untuk membangun suatu kesadaran kolektif kolegial tentang pentingnya menginternalisasi nilai-nilai luhur yang dilahirkan rahim budaya seiring perjalanan waktu yang telah mendewasakan sebuah peradaban.

Bagi yang belum kenal Mbah Semar, ayo nonton wayang orang atau wayang kulit, juga wayang golek. Boleh di Sriwedari Solo, bisa juga di hajatan sebuah desa, sama saja, karena ada pakem yang menjaga agar kanal komunikasi meski terbuka, tapi ada nilai-nilai yang akan selalu muncul lewat berbagai pilihan diksi dan cara bertutur dalam mengolah narasi. πŸ™πŸΎπŸ©΅πŸ‡²πŸ‡¨

Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.

Similar Posts