Tauhid Nur Azhar

Jadah di Bale Merapi 3

Yo prokonco dolanan neng njobo
Padang bulan padange koyo rino
Rembulane ne seng awe-awe
Ngelingake ojo turu sore
Yo prokonco dolanan neng njobo
Padang bulan padange koyo rino
Rembulane ne seng awe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tak terasa hari telah berganti, dan kehebohan akibat gerudukan kelompok begal Suromenggolo, mereda, dan mereka kini justru berniat ikut belajar beternak dan bertani di Ngeboan, tibalah malam dengan bulan purnama.

Perhitungan pronoto mongso menempatkan malam purnama menjadi momen penting dalam siklus satu bulanan.
Di malam terang bulan itu, Ki Ajar Teguh Supriadi dan Ki Catur Brojodento masih terhanyut dalam alunan tembang dolanan yang mengalun syahdu. Namun, di sela-sela ketenangan itu, Ki Catur mulai membuka topik mengenai peran penting para Wali Songo dalam sejarah spiritual dan kebudayaan tanah Jawa. Ia mengingatkan para hadirin bahwa Wali Songo tidak hanya penyebar agama, tetapi juga peletak dasar nilai-nilai moral dan budaya yang masih bertahan hingga hari ini.

“Ki Ajar,” kata Ki Catur sambil menatap ke arah bulan purnama yang bersinar terang, “Kisah Wali Songo adalah cerita besar, penuh hikmah, dan sangat dekat dengan kita. Dari Sunan Ampel hingga Sunan Kalijaga, mereka semua memiliki cara yang unik dalam mendekati masyarakat Jawa. Cara-cara yang penuh kebijaksanaan, menggunakan seni dan budaya sebagai sarana dakwah.”

Ki Ajar Teguh mengangguk perlahan, “Benar, Ki Catur. Sunan Kalijaga, misalnya, menggunakan wayang kulit dan tembang Jawa untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. Beliau sangat paham bagaimana menghargai tradisi lokal tanpa harus melawan arus, malah beliau justru menyelaraskan ajaran Islam dengan budaya yang sudah ada.”

Di sela percakapan, salah satu cantrik bertanya, “Apakah ajaran dan nilai-nilai Wali Songo masih relevan di masa kini, Ki?”

Ki Ajar tersenyum dan menjawab dengan bijak, “Nilai-nilai Wali Songo, seperti toleransi, harmoni, dan kebijaksanaan, tidak akan pernah usang. Mereka mengajarkan kita untuk mencintai sesama, menghargai perbedaan, dan memadukan kearifan lokal dengan spiritualitas. Bahkan di zaman modern ini, di mana kita dihadapkan pada berbagai konflik dan perpecahan, ajaran mereka tetap bisa menjadi pedoman hidup.”

Ki Catur menambahkan, “Betul, Sunan Kudus, misalnya, menunjukkan kepada kita bahwa dakwah tidak harus melalui paksaan. Beliau membangun Masjid Menara Kudus dengan mempertimbangkan bentuk arsitektur Hindu-Buddha yang dihormati masyarakat pada waktu itu. Pendekatan seperti ini yang membuat ajaran Islam diterima dengan baik oleh penduduk setempat.”

Para cantrik dan pengawal mendengarkan dengan penuh perhatian. Malam itu, suasana di sekitar api unggun bukan hanya hangat oleh api yang menyala, tetapi juga oleh percakapan yang sarat dengan makna sejarah dan spiritualitas.

Di tengah percakapan itu, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki mendekat. Seorang pengawal datang dengan tergesa, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Ki Ajar, Ki Catur, ada kabar buruk dari selatan. Sebuah pasukan tak dikenal tengah bergerak mendekati Perdikan Ngeboan.”

Ki Ajar Teguh Supriadi dan Ki Catur Brojodento saling pandang, suasana malam yang semula damai tiba-tiba berubah tegang. Ki Ajar berdiri, matanya menyipit menatap ke kejauhan, seolah mencoba melihat apa yang terjadi.

“Kita harus bersiap. Panggil semua pengawal dan persiapkan pertahanan,” ujar Ki Ajar tegas.

Ki Catur mengangguk, dan dalam hitungan detik, suasana yang semula tenang berubah menjadi hiruk-pikuk persiapan untuk menghadapi ancaman yang datang. Para cantrik dan pengawal berlarian ke arah gudang senjata, sementara beberapa lainnya menyiapkan kuda.

Ki Ajar Teguh, dengan ketenangan seorang pemimpin, berdiri di tengah lapangan, menatap ke arah selatan, di mana bayangan gelap pasukan mulai terlihat di bawah sinar bulan purnama. Dalam hati, ia menduga-duga bahwa mungkin saja pertempuran kali ini bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga uji keluhuran budi dan kebijaksanaan yang diwariskan oleh para leluhur.

“Dalam setiap langkah, kita harus ingat ajaran para Wali,” gumam Ki Ajar, “Kesabaran, kebijaksanaan, dan keteguhan hati akan menjadi pelindung kita.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ki Ajar Teguh tersenyum ketika menyadari bahwa pasukan yang mendekat bukanlah ancaman, melainkan rombongan dari Perdikan Tembayat yang dipimpin oleh Ki Ajar Amongrogo. Para cantrik dan pengawal dari Ngeboan segera mengendurkan ketegangan mereka dan menyambut kedatangan rombongan tamu dengan ramah.

Ki Ajar Amongrogo turun dari kudanya, disambut oleh Ki Ajar Teguh dan Ki Catur Brojodento. Wajahnya penuh ketulusan, matanya menyiratkan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan. Setelah saling memberi salam hormat, Ki Ajar Amongrogo menjelaskan maksud kedatangan mereka.

“Ki Ajar Teguh, kami datang dari Perdikan Tembayat dengan tujuan untuk menimba ilmu dan belajar bersama. Sudah lama kami mendengar bahwa di sini, sema’an rutin diadakan, dan pengayaan kewaskitaan selalu menjadi bagian dari kehidupan spiritual Perdikan Ngeboan,” ucapnya dengan penuh rasa hormat.

Ki Ajar Teguh tersenyum dan mengangguk. “Ki Amongrogo, kehormatan besar bagi kami bisa menerima tamu dari Tembayat. Malam ini kita akan isi dengan berbagi ilmu, seperti yang selalu diajarkan oleh leluhur kita. Silakan bergabung di sekitar api unggun, malam ini masih panjang, dan ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari sejarah para wali.”

Para tamu dari Tembayat bergabung dengan para cantrik dan pengawal Ngeboan di sekitar api unggun. Malam itu, api unggun tidak hanya menyala di tengah lapangan, tetapi juga di hati setiap orang yang berkumpul, menyatukan mereka dalam semangat belajar dan mencari makna hidup yang lebih dalam.

Ki Catur Brojodento memulai dengan mengisahkan sejarah Sunan Ampel. “Sunan Ampel, atau Raden Rahmat, adalah salah satu Wali Songo yang mendirikan pondasi kuat dalam penyebaran Islam di Jawa. Beliau datang dari Champa pada tahun 1443 bersama saudaranya, Sayid Ali Murtadho. Dengan kebijaksanaannya, Sunan Ampel mendirikan Pesantren Ampel Denta di Surabaya, yang menjadi pusat dakwah dan pendidikan agama.”

Ki Ajar Teguh melanjutkan, “Sunan Ampel tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan zaman. Pesan penting yang beliau wariskan adalah falsafah ‘Moh Limo,’ yang berarti menolak lima hal buruk: tidak mau berjudi, mencuri, mabuk-mabukan, berzina, dan menggunakan narkoba. Falsafah ini menjadi landasan moral bagi masyarakat Jawa hingga kini.”

Ki Ajar Amongrogo menambahkan dengan pandangan tajam, “Sunan Ampel juga dikenal sebagai guru dari banyak wali besar lainnya, termasuk Sunan Bonang, anaknya, yang melanjutkan jejaknya dengan cara yang berbeda.”

Ki Catur kemudian bercerita tentang Sunan Bonang. “Sunan Bonang, yang bernama asli Raden Makdum Ibrahim, sangat dikenal karena pendekatannya yang menggunakan seni dan budaya. Dengan tembang-tembangnya, beliau mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang mayoritas masih beragama Hindu-Buddha. Bahkan, beliau menggunakan alat musik tradisional Jawa, seperti Bonang, untuk menarik perhatian masyarakat. Sunan Bonang juga menyebarkan ilmu di Kediri dan mendirikan pesantren Watu Layar di Tuban.”

Malam semakin dalam, dan pembahasan bergeser ke tokoh lainnya, seperti Sunan Giri. Ki Ajar Amongrogo mengambil giliran untuk menceritakan kisahnya. “Sunan Giri, yang dikenal sebagai Maulana Ainul Yaqin, mendirikan kerajaan spiritual di Giri Kedaton, Gresik. Pengaruhnya sangat besar, bukan hanya di Jawa, tapi juga menyebar hingga ke Sulawesi, Lombok, dan Maluku. Sunan Giri juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, mengatur kerajaan Giri dengan mengedepankan pendidikan dan dakwah.”

Semua yang hadir mendengarkan dengan seksama, menyerap setiap detail dari kisah-kisah yang disampaikan. Tiba giliran untuk membahas Sunan Kalijaga, tokoh yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Jawa.

“Sunan Kalijaga adalah salah satu wali yang paling unik,” ucap Ki Ajar Teguh. “Beliau, yang bernama asli Raden Mas Said, dikenal sebagai mubalig keliling. Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit, gamelan, dan seni ukir untuk menyebarkan ajaran Islam. Beliau adalah contoh nyata dari bagaimana agama bisa menyatu dengan budaya tanpa harus kehilangan esensinya. Sunan Kalijaga juga sering menggunakan filosofi ilir-ilir, sebuah tembang yang menggambarkan kebangkitan spiritual dan kesadaran.”

Para cantrik dan pengawal dari kedua perdikan terhanyut dalam cerita. Mereka merasa terhubung dengan sejarah yang dibagikan, seolah-olah mereka juga ikut merasakan zaman kebangkitan spiritual yang dipimpin oleh para wali tersebut.

Setelah membahas Sunan Kalijaga, Ki Catur menutup dengan kisah Sunan Muria. “Sunan Muria, putra Sunan Kalijaga, memilih wilayah pegunungan yang terpencil untuk menyebarkan agama. Beliau dikenal sebagai seorang yang rendah hati, menyebarkan Islam melalui interaksi dengan para pedagang, nelayan, dan rakyat kecil. Nama Muria sendiri diambil dari Gunung Muria, tempat beliau bermukim dan berdakwah.”

Malam itu, di bawah sinar bulan purnama, semangat kebersamaan dan pencarian ilmu menyala terang. Mereka yang hadir tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga merasakan kedalaman makna dari setiap ajaran yang disampaikan oleh para wali. Api unggun pun terus menyala, menjadi simbol semangat spiritual yang tak pernah padam di hati mereka.

Ki Ajar Teguh menutup pertemuan malam itu dengan sebuah pesan bijak, “Mari kita warisi semangat para Wali Songo. Bukan hanya sebagai pengingat sejarah, tetapi juga sebagai panduan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab, ilmu yang sejati adalah yang bermanfaat bagi sesama.”

Dengan hati yang penuh, para cantrik dari perdikan sekitar pun bersiap untuk kembali ke perdikan dan padepokan masing-masing, membawa hikmah dari malam yang penuh berkah itu.

Setelah malam renungan purnama yang khusyuk, suasana di Joglo Perguruan Bale Merapi semakin hangat saat Ki Amongrogo, tamu kehormatan dari Perdikan Tembayat, dijamu dengan wedang jahe panas dan jadah bakar yang lezat. Aroma wedang jahe yang menggoda bercampur dengan wangi jadah bakar khas Ngeboan, menambah keakraban perbincangan di antara mereka.

Ki Ajar Teguh, Ki Catur Brojodento, dan Ki Amongrogo duduk bersila di sekitar meja rendah yang terbuat dari kayu jati, menikmati hidangan sembari terus bertukar cerita hingga larut malam. Malam yang gelap mulai merangkak mendekati fajar, namun mereka bertiga masih saja tenggelam dalam percakapan penuh hikmah. Ki Amongrogo, dengan suara yang tenang namun dalam, mulai menceritakan babak sejarah kerajaan Mataram Kuno.

“Mataram Kuno, atau yang sering dikenal sebagai Medang, adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara,” ujar Ki Amongrogo dengan semangat yang tak berkurang meski malam sudah jauh berlalu. “Pada awalnya, kerajaan ini dipimpin oleh Raja Sanjaya yang berasal dari Dinasti Sanjaya. Ia adalah pendiri sekaligus raja pertama yang menguasai dataran tinggi Dieng dan sekitarnya.”

Ki Catur mengangguk pelan, memperhatikan dengan penuh minat. “Raja Sanjaya dikenal sebagai pemimpin yang kuat, tetapi yang menarik adalah bagaimana penerusnya mulai menyatukan elemen-elemen Hindu dan Buddha dalam kehidupan politik serta spiritual kerajaan.”

Ki Amongrogo melanjutkan, “Betul sekali, Ki Catur. Perpaduan itu semakin terlihat pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Pramodhawardani. Rakai Pikatan adalah pemeluk Hindu, sementara Pramodhawardani, permaisurinya, adalah penganut Buddha. Pernikahan mereka memperlihatkan simbol harmonisasi antara dua agama besar di masa itu.”

Ki Ajar Teguh menimpali, “Dan di zaman merekalah candi-candi besar seperti Prambanan dan Borobudur mulai didirikan, sebagai wujud integrasi kebudayaan dan kepercayaan. Mataram Kuno adalah saksi dari peradaban yang tinggi di Nusantara, ketika seni, arsitektur, dan spiritualitas mencapai puncaknya.”

Ki Amongrogo tersenyum, lalu melanjutkan dengan penjelasan yang lebih dalam, “Setelah era Rakai Pikatan dan Pramodhawardani, muncul salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Mataram, yaitu Mpu Sindok. Ketika ancaman dari erupsi dahsyat Gunung Merapi semakin nyata, dan serangan dari Kerajaan Sriwijaya mulai mengancam dari barat, Mpu Sindok memutuskan untuk memindahkan ibu kota kerajaan ke timur, di wilayah delta Brantas, Jawa Timur.”

Dalam catatan sejarah, ibukota Medang memang mengalami banyak perpindahan. Ibukota Medang tercatat pernah berlokasi di Mantiasih, Poh Pitu, Tamwlang, dan Mamrati.

Ki Catur mengangguk lagi, kali ini lebih dalam, memahami betul betapa besar keputusan tersebut. “Tentu itu bukan keputusan yang mudah, memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Tapi Mpu Sindok berhasil melakukannya dengan penuh kebijaksanaan dan kecakapan politik.”

Ki Amongrogo kemudian menggambarkan bagaimana perubahan ibu kota itu membawa dampak besar bagi keberlangsungan kerajaan. “Pusat kerajaan yang baru ini dinamai Watugaluh, Ibu kota yang disebutkan dalam Prasasti Anjukladang (937) dan Prasasti Paradah (943). Lokasi ini berada di dekat Jombang, di tepi Sungai Brantas.

Dan di bawah pimpinan Mpu Sindok, Mataram Kuno tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang menjadi kerajaan besar yang meneruskan wangsa Isyana.

Dinasti Isyana inilah yang nantinya akan melahirkan raja-raja besar seperti Dharmawangsa dan Airlangga.”

Karena memang sejak awal pendirian kerajaan Medang ini sudah terjadi berbagai tarik ulur kepentingan kekuasaan, tetapi dengan semangat persatuan sebagian besar perbedaan tersebut dapat diterima dan justru menjadi faktor kohesi sosial yang dapat meningkatkan kualitas hubungan sosial.

Sejarah juga mencatat bahwa dari aspek pemerintahan, bangsa Medang terbagi menjadi dua kubu yang diidentifikasi sebagai Syailendra pemuja Siwa dan Syailendra penganut Buddha Mahayana.

Indikasi arkeologis mwenunjukkan adanya perang saudara terjadi, hasilnya adalah wangsa Syailendra dibagi menjadi dua kerajaan yang kuat, wangsa Syailendra (pemuja Siwa) berkuasa di Jawa dipimpin oleh Rakai Pikatan dan wangsa Syailendra (penganut Buddha) berkuasa di Sumatera dipimpin oleh Balaputradewa.

Perselisahan di antara mereka berakhir sampai 938 Saka, atau sekitar 1016 Masehi, ketika raja wangsa Syailendra yang berkedudukan di Sumatera menghasut Haji Wurawari, seorang raja bawahan, untuk memberontak kepada kekuasaan Dharmawangsa Teguh. Dengan dukungan Sriwijaya, Raja Wurawari dari arah Lwaram menyerbu ibu kota Wwatan di Jawa Timur.

Ki Ajar Teguh, dengan suara rendah yang menggambarkan kekaguman, menambahkan, “Perpindahan itu memang tepat. Di Jawa Timur, Mataram Kuno bisa bertahan dari ancaman bencana alam dan invasi musuh. Dan tidak hanya itu, di bawah pemerintahan Mpu Sindok dan penerusnya, kerajaan juga menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan.”

“Betul,” sambung Ki Amongrogo, “Jika tidak ada Mpu Sindok, mungkin sejarah Nusantara akan berbeda. Keputusan strategisnya membuat kerajaan bertahan hingga beberapa generasi. Beliau juga yang pertama kali memikirkan ancaman bencana alam sebagai faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemindahan pusat kerajaan.”

Pembicaraan pun mengalir pada berbagai candi besar yang dibangun di era Mataram Kuno, seperti Prambanan, Borobudur, dan Kalasan. Masing-masing candi memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan perpaduan ajaran agama dan spiritualitas pada masa itu. Ki Amongrogo menjelaskan bahwa Prambanan, misalnya, adalah lambang kebesaran Hindu, dibangun oleh Rakai Pikatan sebagai persembahan kepada Trimurti—Brahma, Wisnu, dan Siwa.

“Sementara Borobudur,” lanjut Ki Ajar Teguh, “merupakan wujud agung dari ajaran Buddha Mahayana. Setiap tingkatannya melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan, mulai dari dunia keinginan hingga mencapai Nirvana. Candi-candi ini bukan sekadar monumen, tetapi juga simbol spiritual yang memandu masyarakat dalam hidup mereka.”

Waktu terus berjalan, dan sebelum mereka menyadari, adzan subuh mulai terdengar di kejauhan. Langit yang sebelumnya gelap pekat mulai berubah warna, perlahan-lahan memancarkan sinar fajar.

Ki Amongrogo, Ki Ajar Teguh, dan Ki Catur saling menatap sejenak. Percakapan mereka yang kaya akan sejarah dan kebijaksanaan meninggalkan kesan mendalam. Meski malam sudah berakhir, ilmu dan pengetahuan yang mereka bagikan akan terus hidup dalam ingatan dan hati mereka.

Ki Amongrogo bangkit dari duduknya, memberikan salam hormat kepada Ki Ajar Teguh dan Ki Catur. “Terima kasih atas jamuan yang hangat dan pembicaraan yang penuh hikmah. Kami akan membawa kembali pengetahuan ini ke Tembayat sebagai bekal untuk generasi berikutnya.”

Ki Ajar Teguh tersenyum, “Ilmu yang kita bagikan malam ini adalah warisan dari para leluhur kita. Semoga apa yang kita pelajari bisa terus menjaga perdamaian dan kearifan di bumi Nusantara.”

Dengan demikian, pagi itu menjadi awal baru, membawa cahaya pengetahuan yang baru terbit untuk mereka semua.

Kamu suka? Yuk bagikan tulisan ini.

Similar Posts